| Maret 2009 |
| Desember 2008 |
| Oktober 2008 |
| Mei 2008 |
| Risalah Sumpah Tuhan |
| Risalah Fatwa Mahkamah Tuhan |
| Risalah Surat Ruhul Kudus |
| Download Risalah |
| Surat Pengantar |
| Penghapusan Semua Agama |
| Surga |
| Neraka |
| God's Revelation |
| Holy Spirit's Letter |
| Peringatan Serius Tuhan kepada Pemerintah Indonesia |
| Wahyu Tuhan di bulan Mei 2008 | |
|
Breaking News Eden
Peringatan Serius Tuhan kepada Pemerintah Indonesia
Wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
“Sungguh Kuberitahukan kepada segenap umat Islam di
dunia ini bahwasanya Mirza Ghulam Ahmad itu sebenarnya adalah
reinkarnasi Nabi Muhammad. Kubangkitkan Nabi Muhammad bereinkarnasi
sebagai Mirza Ghulam Ahmad. Tertera tentang Rasul Ahmad yang
dinubuahkan Nabi Isa Putra Maryam di dalam Al Quran Surat Ash Shaff
ayat 6:
Surat Ash Shaff ayat 6:
6. Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam
berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu,
membenarkan apa yang sebelumnya dari Taurat dan pemberi kabar gembira
dengan seorang Rasul yang akan datang sesudahku, namanya Ahmad.” Maka
tatkala dia datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan, mereka
berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.”
“Sungguh Mirza Ghulam Ahmad telah dapat membawa umat Islam terlepas dari arogansi pemutlakan kebenaran agama Islam yang terbenar di antara semua agama, karena sesungguhnya hal tersebutlah yang telah mengakibatkan agama Islam beralih dan membuat rusuh dunia. Sungguh dia telah berhasil menjaga citra Islam karena dia membawa ajaran Islam yang damai yang Kurahmati. “Kulayakkan dia Kujadikan perantara dalam Rencana-Ku menghadirkan reinkarnasi Nabi Muhammad atas diri Muhammad Abdul Rachman di zaman akhir ini, agar terselamatkan umat Islam yang melulu mengkultuskan Nabi Muhammad sebagai nabi terakhir. “Sungguh keterakhiran kenabian pada Muhammad taklah seperti yang ditafsirkan umat Islam selama ini. Karena di dalam pernyataan keterakhirannya itu adalah terkandung maksud sebagai pernyataan pendahuluan sebelum kejadian suatu keadaan yang Kunyatakan pada saat ini, yaitu tentang Penghapusan Seluruh Agama yang terkodratkan pada zaman akhir sekarang ini. “Arogansi umat Islam atas agamanya sehingga tak mampu mengakui kebenaran keyakinan umat yang lain telah mengakibatkan umat Islam tersanggupkan melakukan kezaliman membakar mesjid-mesjid dan menganiaya. Karena itulah Aku menilai umat Islam Jamaah Ahmadiyah itulah yang justru taat meneruskan kemurnian ajaran Islam yang penuh damai dan dapat menahan diri dari membalas dengan cara yang keras juga. Itulah sesungguhnya ajaran Islam yang benar. “Sia-sialah kamu mempertahankan fatwa-fatwa ulama karena mereka akan Kuadili. Seburuk-buruknya makhluk di atas bumi ini, ialah para ulama. Karena ulah merekalah yang telah membuat-Ku terpaksa melepaskan kutukan berat, sampai Aku harus menghapuskan agama Islam di dunia ini. Dan pada akhirnya, demi Keadilan-Ku, Aku pun terpaksa menghapuskan juga semua agama-agama yang lain karenanya. Dan yang terburuk itu adalah kutukan yang menghadirkan Neraka sepenuhnya ke dunia.
“Sungguh
sudahilah berkelakuan buruk. Cintailah sesama karena Aku tak mungkin
sependapat dengan keyakinanmu itu. Dan seburuk-buruknya ulama ialah
mereka yang telah menentang-Ku. “Kepada Pemerintah Indonesialah kali ini Kutukan-Ku itu tertuju secara langsung karena Pemerintah melepas tanggung jawab terhadap ganti rugi korban lumpur Lapindo. Kali ini, tiadalah Pertamina dapat mengelakkan pertanggungan jawab atas ganti rugi terhadap masyarakat di Muara Enim yang akan tenggelam oleh lumpur kelak. Dan itu akan membangkrutkan Pertamina. Di masa minyak sedang mahal ini, sungguh ancaman musibah terhadap Pertamina itu cukup berat membebani pendapatan negara dan semakin menghadapi kesulitan yang berat, karena wilayah negara Indonesia akan tercatat sebagai negara yang sedang ditenggelamkan oleh Tuhan karena kekualatannya. Camkanlah itu! “Sungguh bencana lumpur itu adalah semata-mata kutukan, karena tiadalah luapan lumpur itu dapat dihentikan dengan cara apa pun dan tak mungkin pula dapat dihalang-halangi. Sesuailah itu Kuperumpamakan sebagai sifat kutukan dahsyat. Itu akan selalu Kumunculkan apabila Wahyu-Ku tak kauhiraukan. Bencana semacam itu sengaja Kumunculkan lagi di berbagai tempat seperti yang terjadi di Indramayu dan Desa Barambai, Kalimantan Selatan, sebagai akibat dari ketidakpedulian Pemerintah Indonesia atas Sumpah-sumpah-Ku yang telah tersebar. Sungguh maha keramat Sumpah-sumpah-Ku yang sudah terlepas. “Aku telah menjamin kalau luapan lumpur di Sidoarjo itu dapat Kuhentikan demi menghadirkan pengakuan Pemerintah Indonesia terhadap kedaulatan Kerajaan Eden. Namun alangkah sulitnya menyadarkan Pemerintah Indonesia atas hal itu. Kau lebih suka membiarkan penduduk di Sidoarjo menderita berkepanjangan dan terlunta-lunta. “Demi menyatakan Kemurkaan-Ku atas peristiwa yang menimpa Jemaat Ahmadiyah dan penepisan terhadap tawaran Pertolongan-Ku untuk mengatasi luapan lumpur di Sidoarjo, demikian Aku menimbulkan lagi bencana yang sejenis di Muara Enim. “Sadarlah, wahai Pemerintah Indonesia, bahwa Aku harus kauperhatikan dan Wahyu-wahyu-Ku yang terkini wajib kautaati. Bila pembubaran Ahmadiyah tetap dilakukan dan Pemerintah Indonesia tetap tak bersedia mengakui kedaulatan Kerajaan Eden, Aku akan menenggelamkan juga wilayah Muara Enim itu sebagaimana Aku telah menenggelamkan Sidoarjo. “Kalau umat Islam tak mau menyadari kerasnya Ancaman-Ku ini, akan Kubiarkan umat Islam tampil sebagai umat yang celaka dan terhina dan terkutuk, gagal dan memelas karena Kuperlihatkan sebagai umat yang tak berakal sehat sehingga sanggup melakukan perbuatan-perbuatan yang tak masuk akal. “Kepada Pemerintah Indonesia, Kuingatkan bila penguasa tak mengayomi semua agama-agama dan berlaku tidak adil di antara semua agama dan keyakinan, maka selanjutnya Aku pun tak memberi peluang merasakan Pengayoman-Ku dan Keadilan-Ku, apalagi Rahmat-Ku. Dan bangsa ini Kubiarkan binasa, tak sanggup bertahan menghadapi segala krisis dan segala bencana yang lebih berat dari sebelumnya yang Kukepungkan dari segala penjuru.
“Kutunggu sikap Pemerintah Indonesia terhadap Pernyataan-Ku ini. Aku tak memberimu waktu lama!”
Jakarta, 1 Mei 2008 Pukul: 02.23 WIB Materi Terkait: |
|
| < Prev | Next > |
|---|