LE2-34-777






Penghapusan Semua Agama

Sumpah Tuhan perihal Penghapusan Semua Agama-agama 

“Aku bersumpah dengan terpaksa menghapuskan semua agama-agama demi mengadili dan demi membakukan Keadilan-Ku. Dan Kuhapuskan semua agama-agama demi perdamaian dan kemudahan jalan menuju Surga-Ku. Tiadalah Aku tak mengindahkan agama-agama yang sudah ada, akan tetapi pertikaian antara agama-agama tiadalah akan berkurang walau telah Kuhapuskan agama Islam sebelumnya. Dan adalah setiap agama itu selalu merasa yang paling benar dan yang pantas diterima di Surga-Ku. Padahal Aku ini Maha Adil dan takkan mungkin melebihkan yang satu dari yang lainnya.

“Dan Aku berfirman: ‘Sucilah dan benarlah semua agama-agama itu karena semua itu berasal dari-Ku jua.’ Namun kalian semua tak meyakini kebenaran agama yang lain selain agamamu sendiri. Permusuhan agama telah membuat masing-masing terkonsentrasi menganggap agama mereka sendirilah yang terbenar.
 
“Maka Kuwajibkan Malaikat Jibril-Ruhul Kudus, sang Batara Surya, sebagaimana dia juga adalah Dewa Wishnu, untuk menyatakan kepadamu semua bahwa ketahuilah, Aku bersumpah mendamaikan semua agama-agama, namun Aku bersumpah menghapuskan semuanya demi berkurangnya masalah pensucian bagi setiap umat yang menempuh jalannya menuju Surga-Ku. Bilamana tak Kuhapuskan semua agama, akan semakin sulit dan semakin berat pertikaian agama-agama yang menginginkan segera dapat dipermaklumkan oleh-Ku sebagai agama yang resmi paling baik dan paling Kubenarkan atau yang paling banyak umatnya diterima di Surga-Ku. Persaingan semacam itu tak mungkin dapat dihindarkan, maka jadilah Surga-Ku itu justru menjadi pemarak permusuhan agama. Tiadalah Aku membiarkan hal itu!

“Demi Kemahaadilan-Ku yang tak Kuinginkan dipertikaikan, padahal Aku telah bersumpah menghapuskan agama Islam terlebih dahulu, yang demikian itulah yang menyebabkan kehadiran Surga Eden di dunia ini pertama kali diemban reinkarnasi Maria, yaitu Lia Eden yang berasal dari kalangan suku Bugis dan yang sebelumnya adalah pemeluk agama Islam, walaupun dia sesungguhnya adalah tokoh junjungan umat Kristen. Demikian Keadilan-Ku di antara umat Islam dan umat Kristen yang sering bertikai. Namun dia adalah juga seorang perangkai bunga yang memuja falsafah-falsafah Buddha dan Hindu melalui falsafah rangkaian bunga.

“Murka-Ku terhadap umat Islam-lah yang menyebabkan Kutukan-Ku. Sehingga demi Keadilan-Ku terhadap umat Islam, maka pemula Komunitas Eden adalah dari kalangan umat Islam. Tapi demi pengakuan bahwa Surga-Ku itu netral, demikianlah mereka semua Kuanjurkan melepas agama Islamnya.

“Sungguh reinkarnasi Yesus dan Maria sengaja Kubangkitkan di kalangan Islam supaya menjadi perhatian bagi seluruh pemeluk agama-agama. Kalau Ketetapan-Ku yang demikian itu dapat dijadikan pengajaran bahwa untuk apa mempertengkarkan tokoh Utusan-Ku, karena Aku berhak menjadikan apa pun para Utusan-Ku. Tidaklah Utusan-Ku itu menjadi hak yang absolut valid hanya bagi kaumnya dan umatnya sendiri. Karena Aku berhak memindahkan garis perjalanan takdirnya sesuai dengan sinkronisasi segenap Wahyu-wahyu-Ku pada seluruh Kitab-kitab Suci dan untuk menjadikannya sebagai Kunci Jawaban-Ku untuk segala yang tersirat dan yang terjaga kerahasiaannya maupun yang tersurat daripada Kitab-kitab Suci yang sengaja dicantumkan demi pembuktian Penjelasan-Ku untuk takdir akhir zaman.
 
“Aku adalah Tuhan Yang Maha Suci lagi Maha Sempurna. Aku-lah yang disembah oleh seluruh umat manusia dan para dewa, para malaikat dan semua makhluk. Dan tiadalah Aku mengkotak-kotakkan agama-agama, namun umat manusialah yang suka mempersaingkan apa-apa yang dimilikinya, demikianpun keyakinannya.

“Semenjak Kerajaan-Ku telah Kuturunkan ke dunia, tiadalah lagi semua agama-agama itu berbeda. Dan tiadalah cara yang berbeda-beda untuk mencapai Surga dan Kerajaan-Ku melainkan hanya melalui Pensucian-Ku dan pentahbisan sebagai orang-orang yang selalu tabah melewati Pensucian-Ku dan berhasil menjadi orang suci yang tak bernoda. Hanyalah orang-orang suci yang tak bernoda lagi yang Kuterima di Surga Eden, apa pun agamanya.
 
“Tak Kunilai cara bagaimana mereka beribadat karena semua itu baik bila tulus dan hanya menyembah kepada-Ku. Oleh karena itu, adalah Kebijakan-Ku untuk memudahkan semua umat menyederhanakan ritual peribadatannya hanya fokus kepada pensucian diri saja. Karena hanya kesucianlah jalan menuju Surga. Dan bersuci itu hanyalah menempuh segalanya dengan jalan yang benar. Dan yang benar itu hanyalah mengamini suara hati nurani.

“Sungguh cara-cara peribadatan itu pada saat ini telah bermacam-macam dan semakin tak masuk akal, rumit, tak mengena, berjalan sendiri-sendiri, dikomersilkan, dan seringkali tak logis dan sesat. Padahal Aku suka disembah hanya dengan ketulusan dan kesucian. Sesederhana apa pun peribadatan itu, asal masuk akal, niscaya Kuperhitungkan.

“Adalah Aku, Tuhan Yang Maha Bijaksana, karena tiadalah Aku Maha Suci kalau Surga-Ku dipertikaikan bagaimana cara yang terbenar agar dapat diterima di Surga-Ku ini, padahal semua ajaran agama itu berasal dari-Ku.

“Kebingungan itu menafikan kesempurnaan Ajaran-ajaran-Ku pada setiap agama. Mungkinkah itu? Sungguh salah penafsiranlah yang menghadirkan perbedaan-perbedaan pendapat. Demikianpun keegoan atas agama masing-masing.

“Bila cakrawala perdamaian terkuak dan dapat menerobos keegoan agama, niscaya Kebijakan-Ku menghapuskan semua agama dapat diterima dengan hati yang lapang, selapang Surga-Ku yang sedang Kudirikan.

“Jangan lagi berbeda persepsi kebenaran dan cara beribadat, menyembah dan berdoa kepada-Ku sebagaimana selama ini. Umat Islam menyangka harus berdoa dalam bahasa Arab, dan umat Kristen memohon kepada ‘tuhan’ Yesus dan Roh Kudus yang dicintainya, dan umat Buddha berdoa kepada Buddha Gautama yang dituhankannya, selayak umat-umat lain yang mengkultuskan yang lain selain Aku. Padahal Kerajaan dan Surga-Ku maha adil, menerima hanya yang suci dari dosa dan yang hanya menganggap Aku-lah Tuhan Maha Raja Diraja, Tuhan Yang Maha Esa yang patut disembah.

“Aku tak membedakan satu agama dengan agama yang lain. Tapi semua agama itu telah menjadi bermacam-macam, terpecah menjadi sedemikian banyak sekte-sektenya. Dan satu sama lain sektenya pun saling membenarkan hanya sektenya sendiri saja. Maka, bila setiap sekte agama itu saja sudah tidak akur dan merasa hanya golongannya sajalah yang paling benar dan yang lainnya itu salah dan sesat, maka tiadalah lagi agama-agama itu saling membenarkan dan saling menghormati keyakinan masing-masing. Dan Aku, Tuhan-lah yang disalahkan. Seakan-akan Aku dengan sengaja memecah-belah umat manusia dengan menurunkan bermacam-macam agama, padahal agama itu Kuturunkan sesuai dengan kehadiran keyakinan yang tumbuh pada bangsa-bangsa yang tak saling mengenal sebelumnya. Maka jadilah agama-agama dan keyakinan itu tersesuaikan dengan adat-istiadat atau kultur dan budaya setempat dan menggunakan bahasa bangsa yang didatangi Utusan-Ku.
 
“Tak mungkin Aku menjadikan agama itu hanya satu dahulu itu, karena kemudahan berkomunikasi belumlah semaju zaman sekarang pada era globalisasi ini. Masing-masing penduduk pribumi di berbagai tempat dan yang terpisah benua, berdiri sendiri dengan adat-istiadatnya sendiri-sendiri pula. Ketika naluri ruhnya ingin menyembah alam semesta, demikian Aku mengutus Ruhul Kudus menjadikan ajaran agama sesuai dengan habitat dan kultur masing-masing kaum atau bangsa yang Kubangunkan ajaran agama. Demikian agama-agama itu pun berbeda bahasa dan syariat, tapi esensi ajarannya adalah sama, yaitu mengajarkan kebajikan.

“Dan Aku menyaksikan bahwa setiap keyakinan itu berkembang pesat dan menyadarkan manusia kepada keyakinan atas kebenaran dan kebajikan hakiki. Umat manusia menjadi luhur budinya dan beradab karena keyakinan dan cintanya kepada-Ku. Dan perkembangan agama-agama pun tak lagi sektoral melainkan berkembang pesat mendunia.

“Salah siapakah kalau agama-agama itu kemudian berkembang menjadi wahana politik? Peperangan agama itu menakutkan karena terorisme dianggap jihad, jalan menuju Surga. Justru itu Kuturunkan Surga Eden, agar tak disalahpahami. Dan Aku pun menyatakan bahwa jihad teroris yang suka mengebom itu adalah dosa yang tak Kuampuni.
    
“Tak terasa zaman kebenaran keyakinan telah memudar. Dosa-dosa manusia semakin berat dan berlapis-lapis, sehingga Aku enggan membalas doa-doa mereka dan mereka pun memperumit cara beribadah mereka agar doanya dapat dikabulkan, padahal dosa-dosa mereka sendirilah yang memberi kendala atas doa mereka.

“Selain itu, umat manusia sudah tinggi ilmunya. Dan mereka menganggap telah dapat menaklukkan alam melalui sains dan teknologinya. Dan mereka suka penasaran dan menganggap ber-Ketuhanan itu tak lagi penting. Seiring dengan itu, kemusyrikan menyesatkan umat manusia. Demikianlah masalah keagamaan itu sudah multidimensi dan multiproblem.

“Setelah perseteruan itu menguat dan perbedaan itu sudah menjadi fitnah dan tindak kekerasan, maka Aku-lah yang harus menghentikannya. Maka Kuhapuskan semua agama-agama dan Kuturunkan Kerajaan dan Surga-Ku demi untuk membuktikan bahwa Aku mencintai semua umat dan semua agama. Dan Aku ingin mengamankan semua agama agar tak berlanjut pertikaiannya dan ingin membawanya ke Surga semuanya. Surga-Ku untuk mensucikan dan Kerajaan-Ku untuk menata keadaan ke arah perbaikan.

“Adapun pertikaian agama-agama itu sulit dibahaskan, apalagi meyakinkan bila semuanya juga mengandung kesalahan. Sungguh hal yang amat Kusesalkan dan yang paling Kubenci adalah fitnah agama dan penzaliman atas nama agama. Dan yang ter-Kubenci itu adalah permusuhan agama dan peperangan agama. Padahal setiap umat itu apabila sudah meyakini doktrin agamanya, mereka tak mau berpaling dan mencoba introspeksi, menempatkan dirinya pada kemungkinan bersalah.
 
“Dan apabila Tuhan diperebutkan selalu, sedangkan doktrin-doktrin agama yang dibakukan bukanlah Ajaran-Ku, karena itu hanyalah pengembangan ideologi atau demi konsumsi kepentingan politik, kesakralannya tak ada karena tak Kuberkati. Demikianlah menjadi berkembang ke arah kesesatan dan menjadilah egosentris keagamaan. Atribut-atribut keagamaanlah yang diagunkan dan yang menjadi pertarungan. Maka ketahuilah bahwa dosa-dosa keagamaan itu sesungguhnya terhadirkan oleh doktrin-doktrin agama yang tak berasal dari-Ku.

“Penafsiran yang bermacam-macam atas ayat-ayat suci yang tersirat maupun yang tersurat, tiadalah dapat dihalangi dan itu diperturutkan oleh karena pemujaan umat kepada para imamnya ataupun para pemuka agamanya. Daripadanyalah terbit pilihan-pilihan yang kemudian disakralkan. Tiadalah penafsiran itu salah kalau kebijaksanaan akal dan rohani yang tersalurkan. Akan tetapi, kalau kebijakan atas nama pamrih untuk kekuasaan dan kemenangan, tiadalah menjadi yang lain selain penyimpangan ajaran. Padahal hal itulah yang seringkali mempengaruhi.
 
“Pengembangan ajaran itu buatan manusia yang tak lain hanya mengakibatkan pengingkaran dan lebih mempersulit penghayatan dan penerapan Ajaran-ajaran-Ku yang sebenarnya. Maka, manalah mungkin mereka itu layak diberkati Surga?

“Kesalahan yang paling sulit diterima di Surga adalah dendam keagamaan dan perbuatan aniaya atas nama agama dan Tuhan, karena tiadalah Aku mengajarkan membela agama dan atas Nama-Ku melalui cara-cara yang keji dan penuh intimidasi. Aku tak mengajarkan jihad memusuhi umat lain yang beriman dan yang beramal saleh dan yang menyebut Tuhannya adalah Aku, apalagi bunuh diri dengan bom yang diledakkan dan ikut menewaskan publik sehingga menebarkan rasa takut dan kebencian, dan merusuhi dunia. Apakah mengimani ajaran Agama-Ku bisa dengan cara demikian? Sungguh mereka bukannya langsung masuk Surga, melainkan mereka itu Kukutuk menjadi binatang. Camkanlah itu!

“Sungguh mencaci keyakinan agama yang lain itu haram. Dan mengintimidasi rumah peribadatan itu pun haram. Sungguh dendam keagamaan itu sudah kisruh sekali. Banyak yang mengira memusuhi umat lain itu dibenarkan dan merupakan ibadah yang mulia. Dan apakah Aku dapat menegakkan Surga di dunia ini apabila kebanyakan umat beragama itu tak dapat menghindarkan dirinya dari kesalahan seperti itu?

“Sungguh salah umat yang memecah-belah agama dan menjadikan begitu banyak sekte-sekte. Apakah Aku harus meluruskan semua agama dan sekte-sektenya satu demi satu sampai lurus lagi semuanya? Itu tak memungkinkan karena terlalu rumit, memakan waktu dan bertele-tele dan kebuntuannya tak teruraikan, padahal peperangan agama telah mengancamkan kiamat.
 
“Ancaman kutukan saja tak mau didengarkan. Suara sekeras apa pun untuk memperingatkan takkan bisa lebih keras dari suara ledakan bom. Perang ayat-ayat suci hanya mengakibatkan kesakralannya punah. Dan intimidasi agama membuat semua hal menjadi buruk. Karena apalagi yang dapat tertinggal untuk jadi pengajaran dan nasihat kalau wajah agama itu sudah terlalu menakutkan, karena penuh dengan intimidasi dan kekerasan? Ketentraman beribadah telah sulit didapat, maka hanya tinggallah kebencian agama. Oleh karena itu, apalagi yang masih harus dipertahankan?

“Taklah cukup waktu untuk meluruskan akidah semua orang dan meluruskan semua sekte-sekte agama kembali ke masing-masing agama formal. Sedangkan agama-agama yang formal sekalipun sudah mengandung kesalahan yang tak lagi dapat dibenahi. Demikianlah Aku terpaksa memutus segala unsur kerumitan kesalahan dengan menetapkan Penghapusan Semua Agama. Dan Aku berhak menjadikan semuanya hanya menjadi satu, yaitu kembali kepada kemurnian Ajaran-ajaran-Ku, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa dan kebajikan abadi yang universal, yang dipahami sebagai ajaran perenial. Tanpa agama, namun hanya mengandalkan kebajikan dan berkeyakinan monotheis absolut. Dan Aku bersumpah membuktikan bahwa pada saat ini Aku telah menghapuskan semua agama. Dan Aku bersumpah untuk membuktikan bahwa Aku telah meniadakannya.

“Selagi Aku sedang berfirman di sini, maka di wilayah negeri inilah terbakukan keadaan yang Kufirmankan secara fisik. Akan banyak kejadian-kejadian tragis dan aneh, penuh keajaiban. Di sinilah sedang terlaksana semua malapetaka dan musibah-musibah berat sebagai kenyataan isi Firman-firman-Ku. Kutitahkan semua iblis meruyakkan musibah dan kecelakaan. Dan Kuperintahkan alam menyatakan Murka-Ku. Kalau kamu menyatakan semua malapetaka itu hanya gejala alam biasa, bertahanlah kamu dari berbagai kecelakaan, kesialan, wabah penyakit dan kebakaran serta kerusuhan. Dan apakah itu juga gejala fenomena alam?

“Di negeri yang terkutuk dan di tempat Aku memfatwakan Penghapusan Semua Agama-agama, tiadalah doa kenegaraan dan keagamaan yang mengharapkan Aku meredakan petaka-petaka itu dapat Kukabulkan. Sebab yang ingin Kupersaksikan itu adalah Penolakan-Ku terhadap doa kenegaraan dan doa keagamaan di negeri ini demi membuktikan Kutukan-Ku atas bangsa dan Pemerintah Indonesia dan Fatwa-Ku atas Penghapusan Semua Agama.

“Telah baku Penolakan-Ku atas doa yang dipanjatkan di sini. Oleh karena itu, semakin diacarakan doa kenegaraan dan doa keagamaan demi memohon penyurutan malapetaka, justru semakin Kuhadirkan malapetaka-malapetaka. Jadi, memohonlah kepada-Ku atas nama Kerajaan Eden, niscaya Kukabulkan karena Pertolongan-Ku bersamanya. Sungguh, yakinlah akan hal ini! 

“Berdoalah kepada-Ku bila bangsa Indonesia ini mengharapkan Aku menyudahi Neraka itu karena takkan ada yang lain yang dapat menyudahinya. Namun Aku telah menjadikan negeri ini negeri kutukan. Oleh karena itu, tiadalah doa dari umat Muslim maupun umat agama yang lainnya yang bisa Kukabulkan. Biarlah bersambut semua macam doa dari semua agama untuk menyudahi Neraka, tapi Aku hanya menginginkan Surga Eden dan Kerajaan-Ku yang dipinta oleh mereka semua.
 
“Seandainya ada golongan agama tertentu yang merasa dapat dikabulkan doanya karena ingin menafikan Fatwa-Ku ini, maka Kujadikan menyeluruh segala musibah dan malapetaka supaya terhadirkan bukti kebenaran Fatwa-Ku itu, berikut segalanya yang Kuancamkan. Kemudian biarlah ditunggu sampai kapan semua bencana itu akan mereda dan doa dari agama apa yang sanggup terkabulkan.

“Maka jadilah semuanya saksi! Tiadalah itu semua dapat terbuktikan kecuali bila bencana itu telah menyeluruh dan terus berkelangsungan tanpa jeda. Dan telah terlihat segala ritual dari semua agama bahwa segala umat telah mengupayakan permohonan doa mereka kepada Tuhan untuk memohon pertolongan dan pengampunan. Sungguh Pengampunan-Ku hanya terjadi setelah adanya pengakuan atas Kerajaan Eden dan Surga Eden.

“Tiadalah Aku pembenci dan angkara murka. Akan tetapi, penghapusan semua agama demi perdamaian dan penghentian permusuhan agamalah yang mengharuskan Aku berbuat demikian. Dan Ancaman-Ku ini harus Kujelaskan supaya semua orang tahu apa sebenarnya yang Kukehendaki. Tanpa ancaman, tanpa pemberitahuan dan tanpa pengetahuan tentang Maksud dan Tujuan-Ku, maka malapetaka-malapetaka itu hanya sekedar dianggap sebagai Angkara Murka-Ku. Taklah umat manusia akan menyadari apa sebenarnya yang sedang terjadi.

“Bilamana Aku sudah menetapkan sesuatu yang maha keras demi kemurnian Ajaran-Ku, itu tandanya tak ada lagi cara pembenahan yang lainnya. Sesungguhnya yang Kuingini adalah hanya ketakwaan di dalam kebenaran dan kebajikan saja. Karena kalau itu yang dipertahankan, takkan ada permusuhan. Untuk menghentikan permusuhan agama itulah, maka Aku bertindak seperti ini.

“Tiadalah ada doa yang berkenan Kukabulkan pada saat ini dari umat agama apa pun yang memanjatkannya karena Kerajaan-Ku harus diakui terlebih dahulu. Demikianpun telah lama Aku mengumumkan adanya Tahta Suci Kerajaan Eden dan Surga Eden dari-Ku, namun tak satu pun golongan agama yang manapun yang bersedia mengakuinya. Oleh karena itu, Kupermaklumkan hal tersebut juga sebagai salah satu Alasan-Ku mengapa Aku menghapuskan semua agama-agama.

“Jadilah satu dan damailah semuanya. Dan tegakkan Kerajaan dan Surga-Ku, maka Aku bersumpah melimpahimu rahmat kembali dan menyudahi petaka-petaka.  

“Tiadalah semua umat beragama itu bersedia memahami Ketetapan-Ku ini. Sebab manalah mereka itu seketika mau percaya? Tapi Aku segera menegakkan Kerajaan Surga-Ku ini agar kamu semua percaya. Dan apa pun yang akan Kuberdayakan untuk menjamin Kerajaan dan Surga-Ku, niscaya kedahsyatannya menghadirkan pengakuan atas Kerajaan dan Surga-Ku.
 
“Dan Aku-lah sendiri yang mensucikan semua orang yang bersedia mensucikan diri menuju Surga Eden. Tiadalah yang lain. Namun Ruhul Kudus-lah yang menyebutkan siapa-siapa yang berkenan Kuterima dan siapa-siapa yang tak Kubenarkan. Dia pulalah yang memberitahukan apa sebabnya ada yang tak bisa melanjutkan pensuciannya dan yang harus dikeluarkan dari arena pensucian Surga. Hanyalah Aku yang menentukan siapa-siapa yang Kuanggap layak memasuki Surga-Ku. Sesungguhnya tiadalah muskil menjadi orang suci tanpa noda, karena Aku bisa menjaminkannya.

“Keadaanlah yang memaksa-Ku harus menghapuskan agama Islam terlebih dahulu. Karena Kerajaan Eden-Ku dihinakan dan Lia Eden dan Komunitas Eden dizalimi oleh umat Islam di sini. Dan pula, kesalahan umat Islam telah melampaui batas.

“Telah menggejala di seluruh dunia kebencian terhadap Islam, maka umat Islam tak patut lagi Kubela ataupun Kuluruskan agamanya sekalipun. Setiap darah yang tersimbah yang disebabkan oleh umat Islam, tak mungkin lagi dibahaskan sebagai kesalahan siapa.

“Sungguh kejadian-kejadian pertumpahan darah yang melibatkan umat Islam tak dapat lagi Kuampuni, terlebih deklarasi Kerajaan dan Surga-Ku dianggap sebagai kesesatan dan dusta. Sementara, perilaku dan peribadatan sebagian umat Islam-lah yang sesat dan menyesatkan. Dan yang paling Kubenci itu adalah pembenaran-pembenaran atas jihad yang tak berperikemanusiaan dan perbuatan anarkisme yang sering dilakukan dan yang mengakibatkan begitu banyak korban tewas mengenaskan. Dan sungguh banyak penghancuran rumah-rumah ibadah dan intimidasi.

“Permusuhan antara Syiah dan Sunni di Irak, Fattah dan Hamas di Palestina, terorisme Al Qaedah, Taliban dan Jamaah Islamiyah, separatis Islam Moro, terorisme dan intimidasi terhadap keyakinan lain di Indonesia ini, telah merupakan dosa-dosa besar umat Islam yang tak bisa Kuampuni. 

“Penekanan dan intimidasi di kalangan umat Islam sendiri maupun terhadap tempat peribadatan umat agama lain oleh golongan umat Islam sungguh menjenuhkan dan tak beradab. Ajaran-Ku itu telah terlihat menjadi ajaran yang tak manusiawi dan salah. Perilaku umat Islam sudah melampaui batas karena telah menyeluruh umat Islam menyangka hanya agamanyalah yang paling benar dan tak mengakui kebenaran umat agama lain. Bahkan tak dibenarkan walau hanya sekedar memberi salam sekalipun. Ketetapan-Ku atas Penghapusan Agama Islam yang terdeklarasikan di sidang pengadilan Lia Eden di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada tanggal 23 Juni 2006 itu adalah juga kenaasan umat Islam sedunia dan bangsa Indonesia. Demikian kenaasan demi kenaasan di kalangan umat Islam di seluruh dunia tersaksikan.

“Telah Kuturunkan Kutukan-Ku kepada umat Islam dan bangsa Indonesia, maka Kuhadapkan kepada mereka reinkarnasi Nabi Muhammad, ialah Muhammad Abdul Rachman Eden sebagai penebus dosa umat Islam. Dan Kunyatakan sebagai Nabi Muhammad yang menderita sekali karena harus menebus dosa umat Islam. Maka katakanlah, ‘Kami takkan mengkultuskan Nabi Muhammad lagi dan tidak menyekutukannya dengan Tuhan.’

“Dan telah Kuampuni dia oleh karena penderitaannya menebus dosa umatnya itu dan pengabdian yang tulus dan bersungguh-sungguh menjalankan Amanat-amanat-Ku untuk meluruskan akidah umat Islam kembali. Dan Kujadikan dia contoh seorang nabi yang membayar pengkultusannya dan kesesatan umatnya.
 
“Dan tiadalah Aku Tuhan Yang Maha Adil dan Sempurna apabila tak Kujadikan Cobaan-cobaan-Ku terhadap reinkarnasi Nabi Muhammad itu tidak dapat dianggap sebagai Ajaran-Ku yang nyata dan dapat terukur Perimbangan-perimbangan-Ku atas kesalahan umat seorang nabi. Sungguh siapa-siapa umat yang meruntuhkan agamanya sendiri, maka nabinya pun ikut bertanggung jawab. Demikian Nabi Muhammad Abdul Rachman Eden tersiksa karena umatnya.

“Dan apabila Aku sudah menghapus agama Islam setahun yang lalu, walau tak bergaung karena tak diberitakan sehingga tak menjadi perhatian umum, tapi itu telah terlaksana sebagai Ketetapan Hukum-Ku. Demikian Kuperlihatkan kenaasan nasib umat Islam sedunia setelahnya. Dan Kuperlihatkan bahwa Aku tidak sungkan menebar gempa di saat memasuki bulan Ramadhan di bulan September 2007 yang lalu, padahal bulan Ramadhan diyakini sebagai bulan penuh rahmat dan pengampunan. Demikianlah di bulan Ramadhan hingga di hari raya Idul Fitri tak ada keistimewaan perlindungan dari-Ku. Banyak terjadi musibah kebakaran dan kecelakaan, bencana tanah longsor serta gelombang pasang. Semua itu menandaskan apa-apa yang telah Kuwahyukan.  

“Dan Kuperlihatkan suatu yang berbeda dalam perjanjian, yaitu perbedaan Sikap-Ku pada saat tsunami di Aceh pada akhir tahun 2004 dan Penyikapan-Ku pada saat gempa di Sumatera pada tahun 2007 ini. Terpelihara Penjagaan-Ku atas masjid-masjid sewaktu terjadi bencana tsunami di Aceh akhir tahun 2004, sebab belum terjadi Fatwa Penghapusan Agama Islam, maka Aku masih dalam perjanjian menjaga kesakralan masjid-masjid.

“Pada saat itu, Aku murka terhadap gerakan kaum Muslim yang terlihat oleh-Ku suka membuat prahara dengan umat Kristen. Gereja-gereja umat Kristen dibom dan mereka diintimidasi dan diusir. Menjelang hari Natal, sibuklah umat Kristen dan polisi di negeri ini, dengan penuh was-was mereka berjaga-jaga mengawasi gereja-gereja dari aksi pemboman.

“Aku memperingatkan umat Islam. Maka tsunami sengaja Kujadikan tepat saat umat Kristen merayakan hari Natal. Dan musibah yang terberat justru terjadi di wilayah Negara Indonesia yang memberlakukan syariat Islam. Demikian Aku menandainya.

“Kini Aku telah melepas Kutukan-Ku Penghapusan Agama Islam. Dan Kunyatakan itu melalui fenomena peristiwa petaka gempa Sumatera. Suasana bulan suci Ramadhan adalah yang ditunggu-tunggu umat Islam. Akan tetapi, tepat pada saat umat Islam sedianya menyelenggarakan sholat tarawih menyambut bulan suci Ramadhan, terjadilah gempa besar. Dan Aku mempersaksikan bahwa Aku tak lagi dalam perjanjian memelihara keagungan dan kesakralan masjid-masjid. Begitulah gempa yang terjadi di bulan Ramadhan tahun ini, banyak ditemui masjid-masjid yang runtuh.
 
“Demikianpun telah banyak masjid-masjid yang Kuruntuhkan sebelumnya di berbagai wilayah. Dan Kuruntuhkan melalui berbagai penyebab. Begitulah umat Islam ingin Kusadarkan atas Maklumat-Ku itu, bahwa tiadalah Aku berkewajiban menjaga Islam lagi.  
“Dan tiadalah Aku Maha Adil bilamana Aku tak menghapuskan semua agama-agama yang lain pula setelahnya, karena manalah pernah ada lagi kesempurnaan keadilan apabila agama Islam yang sudah berumat banyak sekali di dunia ini luput dari Pemberkatan-Ku dan terhinakan selama-lamanya? Padahal mereka semua itu sesungguhnya adalah umat-Ku yang mencintai-Ku. Dan Aku pun mencintai mereka.

“Adalah lebih baik bagi mereka mengubah diri dan menjadi satu keyakinan saja dengan semua umat yang lainnya. Maka segala ajaran agama-agama menjadi Kusederhanakan dan tak berbeda. Dan itu patut dicontohkan oleh Komunitas Eden yang Kurahmati.

“Katakanlah bahwa siapa-siapa yang terlihat amat dekat dengan-Ku karena selalu mendapat petunjuk-petunjuk dari-Ku dan jelas terlihat mereka itu bermukjizat dan makbul doa-doanya, dan mereka senantiasa Kuberkati Rahmat-Ku dan mereka Kusebutkan sebagai anak-anak-Ku, dan mereka itu pula yang Kuberkati Surga Eden dan Kerajaan-Ku, jadikanlah cara peribadatan mereka sebagai kesimpulan bahwa begitulah cara-cara menyembah-Ku yang Kuberkati. Karena sungguh beribadah menuju Surga-Ku itu sebenarnya lebih mudah, karena cukuplah kamu hanya menyembah Aku dan berdoa hanya kepada-Ku, Tuhan Yang Maha Esa, dalam bahasa apa pun.

“Dan Kuhapuskan segala perbedaan cara ritual di antara semua agama. Kesucianlah yang Kuutamakan. Dan jauhilah dosa-dosa serta perbanyaklah mengamalkan kebajikan. Sungguh Permintaan-Ku ini tak perlu dipersoalkan, karena sungguh Permintaan-Ku ini tak lain hanyalah kebajikan universal. 

“Dan Aku menyatakan bahwa tatkala Kerajaan dan Surga-Ku tegak berdiri dan diakui, anak kandung Lia Eden ialah reinkarnasi Yesus pada A. Mukti Day dan reinkarnasi Nabi Musa pada Fathun Nur Day, tak bersama Bundanya di Surga Eden. Itu karena umat Kristen memuja Yesus sebagai tuhannya dan umat Yahudi memerangi umat Islam dan Kristen sehingga menjadikan dunia terancam perang dunia dan kiamat. Sungguh para nabi Utusan-Ku saat ini sedang menebus dosa umatnya masing-masing.

“Adalah lebih baik berdoa di dalam bahasamu masing-masing agar jelas apa yang kau panjatkan kepada-Ku. Aku memahami semua bahasa di atas bumi ini dan tak ada bahasa tertentu yang resmi sebagai Bahasa-Ku. Tak penting bagi-Ku bagaimana kamu menjalankan cara ritual peribadatanmu dan dalam bahasa apa pun, tapi Aku menginginkan dengan cara yang paling sederhana tapi hikmat dan tulus, dan dalam keadaan suci. Karena Aku Maha Tahu dan Maha Melihat dan Maha Menerima segala doa.
 
“Surga dan Kerajaan-Ku sempurna dan maha keramat dan dapat diraih hanya melalui kesucian tanpa memandang ras dan cara ritual agama-agama dan bahasa. Karena bila hanya kesucian diri yang difokuskan, sesungguhnya semua ajaran agama pun selalu mengajarkan menjauhi dosa dan bertindak benar. Bagi-Ku, justru hakikat kebenaran dan kebajikanlah yang patut dijadikan pedoman hidup. Sesungguhnya, tidaklah berbeda semua ajaran agama-agama itu.

“Sudah Kutuliskan dalam Al Quran, dan telah Kubayangkan bagi umat manusia bahwasanya reinkarnasi Maryam/Maria yang Kusebutkan namanya Lia Eden itu sudah Kupesankan untuk menyampaikan Fatwa-Ku ini, yaitu dalam Surat Al Anbiyaa ayat 91-93. Jadilah, maka jadilah! Jadilah Aku menghapuskan semua agama-agama. Dan menjadilah satu semuanya.”


 
< Prev   Next >