LE2-34-777






Risalah Surat Ruhul Kudus

Uang Haram Disita Tuhan 

Harta-harta haram dimusnahkan Tuhan melalui bermacam-macam musibah. Dan jangan kaget bila kukatakan bahwa itu pun dapat kami sita di tempat. Artinya, uang-uang haram itu bisa menghilang secara tiba-tiba, seberapa pun ketatnya Anda menyimpannya.

Uang-uang haram sitaan Tuhan bukan menjadi milik publik, sehingga semua orang boleh beranggapan bahwa Janji Tuhan membagikan Bantuan-Nya itu otomatis dapat diharapkan oleh siapa pun yang membutuhkan uang. Dan siapa pun niscaya boleh berpengharapan akan dibagikan uang oleh Tuhan secara langsung dan boleh menuntut. Dan setiap orang miskin merasa berhak atas hal itu. Padahal tak jarang orang miskin pun ada yang suka berbuat aniaya dan melakukan kejahatan.

Setiap orang niscaya berharap diberi uang oleh Tuhan. Tapi Tuhan punya perjanjian hanya terhadap mereka yang berbudi baik, dan yang takut kepada Tuhan, sehingga mereka mau menjaga diri dari dosa dan ada jaminan mau bersuci, serta berharap Kerajaan Eden makmur dan dipercaya. Bukan terhadap orang-orang yang hanya mengeluh dan masih suka melakukan dosa, dan mengira Tuhan pun wajib memberinya uang karena dia miskin.

Tidak seperti itu Cara Tuhan bila ingin memberi kejutan rezeki. Hendaklah selalu dipertimbangkan apa saja yang dipersyaratkan-Nya. Yang jelas, Pak Waras, korban lumpur Lapindo di Sidoarjo itulah tolok ukur keadaan yang dipertimbangkan Tuhan bisa diberi kejutan bahagia. Sebelum Janji Tuhan ini terlaksana secara umum, Dia melakukannya terlebih dahulu kepada korban lumpur Lapindo, Bapak Waras yang jujur, supaya semua orang tahu dan dapat mengkaji Kehendak Tuhan dan Persyaratan-persyaratan-Nya. 

Tentu PT Lapindo Brantas berpendapat uang merekalah yang mengalir tak terduga ke nomor rekening Bapak Waras. Tapi siapa yang mengalirkannya begitu saja tanpa sepengetahuan mereka? Janji Tuhan yang semacam ini tetap berlaku melalui hukum kelogisan. Siapa-siapa yang uangnya ingin diambil Tuhan, mengalirlah uang itu keluar dengan sendirinya. Dan siapa-siapa yang ingin diberikan-Nya pun akan menemui rekeningnya tiba-tiba kemasukan uang yang tak pernah dia miliki. Aliran uang itu berjalan sekehendak Tuhan. Blokade aliran uang yang akan dikeluarkan Tuhan dari rekening-rekening nasabah tak mungkin dapat dilakukan oleh pihak bank. Karena mereka tak mungkin tahu kapan dan bagaimana Tuhan mengambilnya, dan rekening siapa yang ditargetkan Tuhan akan diambil uangnya. Dan untuk itu saja dapat kami maklumatkan bahwa sesungguhnya Tuhan itu menghakimi semua pihak tak terkecuali. Semuanya juga terlibat kesalahan uang haram, termasuk perbankan. 
 
Dan jangan menyangka Komunitas Eden yang dijanjikan Tuhan jaminan nafkahnya itu dapat serta-merta menerima rezeki dari Tuhan atas sekehendak mereka sendiri, seperti memiliki simpanan deposito di bank. Ah, tak seperti itu Cara Tuhan mendidik Komunitas Eden. Mereka tak dimanjakan seperti itu. Mereka sudah suci dan serius menjalankan Amanat-amanat-Nya, namun mereka pun sendiri tak mewarisi uang-uang sitaan Tuhan itu.

Dapat dipastikan uang-uang sitaan Tuhan itu bukan pula milik Lia Eden atau Kerajaan Eden, melainkan uang-uang sitaan itu tersimpan secara rahasia oleh Tuhan sendiri. Tak bisa diminta melalui cara apa pun, kecuali bila Tuhan sendiri yang berkehendak memberikannya atau untuk membayarkan sesuatu. Percayalah, tak seorang pun yang bisa mendapatkan uang tersebut, kecuali Tuhan sendiri yang ingin memberi.

Penyitaan uang-uang haram akan menyita perhatian publik karena keanehan kisah uang yang hilang dari dalam brankas yang terkunci dan terjaga. Begitupun rekening-rekening bank yang terblokir atau terkuras tanpa sebab, seramai itu  pula pergunjingan uang-uang yang diterima masyarakat secara ajaib.

Kuakui bahwa ‘kecurian’ itu dilakukan olehku tanpa bisa dituntutkan. Uang yang sirna oleh kekuatan gaib dan diakui oleh Malaikat Jibril, bisakah itu dituntut? Kepolisian pun tak boleh menahan Lia Eden, walaupun aku menjelma sebagai dirinya. Karena terbukti bukan dia yang melakukannya. Bahkan aku akan mengakuinya bila dipertanyakan kepadaku secara langsung melalui websiteku www.le2-34-777.info. Dan apabila aku ditanya mengapa aku mengambil uang Anda tanpa permisi, dan aku pun akan menjelaskan alasanku. Dan aku tahu bagaimana menjelaskan asal muasal uang Anda itu. Begitulah aku akan membeberkan Pengadilan Tuhan. Adakah yang bisa menghentikan aku melakukan itu? Padahal semua orang yang tak berperkara denganku senang melihat kehadiran websiteku itu.  

Pengakuanku ini bukanlah pengakuan Lia Eden melainkan pengakuan Malaikat Jibril. Campur tangan polisi hanya akan menjadikan mereka itu sulit bekerja dan mempertanggung jawabkan ke lembaganya dan ke masyarakat karena hasilnya nihil, padahal mereka sendiri mengalami hal semacam itu tanpa disangka-sangka dan tak bisa berbuat apa-apa.

Bukankah polisi itu sering memalak masyarakat? Uang-uang haram mereka pun kelak akan bersaksi. Betapa pun harus ada barang bukti yang dapat dijadikan pelacakan kecurian, ada jejak pelaku. Dan itu takkan bisa diadakan. 

Kekuatan gaib ini tak bisa diperiksa, bahkan dilawan dengan kekuatan ilmu gaib sekalipun. Tak bisa dilakukan penjebakan atau penangkalan terhadap Kekuatan Gaib Tuhan. Bila ingin menuntut Eden atas pengakuanku ini, silakan hadirkan bukti-bukti pencurian, dan hasilkan keakuratan pembuktian secara hukum dalam pemeriksaan kaum Eden. Tentu tak ada bukti yang bisa dikaitkan. Barang bukti tak bisa dihadirkan untuk dijadikan pasal dakwaan karena prosedur penghilangan uang itu terjadi secara gaib. Pengakuanku ini tak bisa dipersoalkan ke persidangan karena jelas-jelas semua itu terjadi demi pensucian, dan gejalanya sangat nyata berasal dari Tuhan secara langsung. 

Komunitas Eden itu suci dan amat terlarang menerima uang dari pihak di luar Komunitas Eden, sekalipun uang itu halal dan tulus ikhlas diberikan untuk Eden. Nah, dari hal itu saja, mana mungkin mereka pandai membongkar brankas bank?

Uang yang hilang tak ada pada Eden sama sekali, tapi uang itu berhamburan di masyarakat yang memerlukannya. Tak pula bisa diprediksi oleh Eden, ke mana uang itu dibagikan Tuhan, karena bukan Komunitas Eden yang memiliki dan membagikannya, melainkan Tuhan sendiri. Jadi mau apa kalau uang-uang haram itu pada sirna di tempatnya dan tak bisa tertangkap tangan pencurinya dan tak bisa dilacak, kecuali hanya bisa dimaklumi melalui pengakuanku ini?

Lia Eden dan Komunitas Eden tak memiliki uang itu, dan tak tahu-menahu tentang kecurian itu. Maka tak adalah yang bisa meminta uangnya kembali kepada Eden. Pengakuanku ini adalah penjelasan cara kami menghakimi koruptor dan pencuri, dan segala kejahatan ekonomi.

Sebaiknya aku menjelaskan kalau sesungguhnya uang-uang sitaan itu nanti akan berjumlah tak terhingga. Bisa dibayangkan kalau segala uang korupsi dan hasil kejahatan itu sanggup kami sita. Uang-uang haram sitaan dari seluruh dunia niscaya akan berjumlah sangat besar. Bayangkan itu bila semuanya menjadi milik Tuhan, sehingga memungkinkan memperbaiki segala hal, dan menjadi pembiayaan segala yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.

Kehancuran negeri ini tak dapat dihindarkan. Dan itu berarti Tuhan harus membangun kembali. Demikian uang-uang sitaan Tuhan itu dapat membangun infrastruktur negeri ini kembali setelah bangsa ini suci. Hari Penghakiman memungkinkan kami dapat bereaksi semuskil itu.  

Hanya kepada kamilah mukjizat itu dapat diberdayakan. Tiadalah jin/tuyul nakal dapat merecoki Pengadilan Tuhan ini, karena Tuhan telah bersumpah menghakimi langsung uang-uang haram demi kemaslahatan umat. Dan telah lama mukjizat kami itu tercantum dalam Alkitab yaitu dalam Surat Wahyu 3 ayat 3.


Surat Wahyu 3 ayat 3:
3.
Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.
 
Seperti inilah tafsir ayat tersebut di atas: Ada orang-orang yang telah menerima uang dari Tuhan dan ada orang-orang yang hanya mendengarnya saja. Tapi percayalah dan perturutkan saja berita ajaib itu dan bertaubatlah daripada ikut kecurian.

Carilah uang halal. Karena kalau uang Anda itu haram, niscaya aku akan datang dan mengambil uangmu itu kapan saja. Maka berhati-hatilah dengan uang harammu karena bisa sirna dalam sekejap walau berada di dalam saku atau brankasmu sendiri, bahkan yang sedang terletak di hadapanmu sekalipun. Siagalah! Karena tak ada cara mempertahankan uang simpanan kecuali bila uangmu itu halal. Begitulah Cara Tuhan bila Dia ingin memaksa manusia itu menjadi suci dan baik, dan terpaksa mencari rezeki halal. Nah cantuman Surat Wahyu 3 ayat 3 itu sudah merupakan bukti jaminan bagiku dari Tuhan, bahwa apa yang kukerjakan itu direstui Tuhan.   

Adakah pelaksanaan hukum yang tuntas dan bersih sebagaimana sistem Hukum Tuhan di Kerajaan Eden? Ketegangan-ketegangan yang diakibatkan kesirnaan uang-uang di brankas bank harap diantisipasi dengan pengetatan asal-usul uang nasabah, dipautkan dengan program Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Karena kalau tidak dilakukan pengetatan pengawasan halal haramnya uang yang keluar masuk bank, bank itu sendiri yang akan mengalami defisit keuangan karena akan kami curi. Brankas bank yang terkunci dan dipasangi alarm sekalipun dan dijaga ketat, takkan dapat menghalangi Penyitaan Tuhan.

Tuhan sudah memberi Peringatan dan Persyaratan-Nya. Turutilah itu dan bertaubatlah! Hari Penghakiman Tuhan itu harus terlihat secara terbuka. Hanya dengan uang halal semua orang dapat bertahan dan aman.

“Jadilah miskin karena dosa dan jadilah kaya raya karena suci!” Itu motto yang kubawa. Tentu tak sama dengan motto “Mencari uang haram saja susah, apalagi uang halal”.

Jangan curiga Lia Eden akan menghambur-hamburkan dana kerajaan, karena Lia suci dari segala keinginan duniawi. Dan uang yang banyak itu tak berada dalam tangannya, bahkan dia sendiri tak sanggup menghadirkan uang itu untuk dirinya sendiri, seberapapun dibenarkan urusannya yang memerlukan dana. Tuhan hanya memberi bila Dia sendiri yang berkehendak tanpa diminta pun. Selalu saja Perkenan Tuhan untuk memberi rezeki selalu terpulang kepada persoalan yang dihadapi dan terpaut dengan seberapa kemenangan hasil pensucian yang telah diperoleh. Uang itu milik Tuhan, bukan milik Eden, sekali lagi kutegaskan.

Takkan ada kecurangan setitik pun di Eden. Kesucian Komunitas Eden akan menjadi suri tauladan semua orang. Mereka semua sangat patuh kepada hukum. Begitulah, berikutnya mau tak mau, semua peraturan dan undang-undang hukum dipatuhi semua orang. Sistem berjalan sesuai dengan undang-undang dan hukum yang berlaku. Karena semua orang tahu, Tuhan sedang bekerja dan Maha Tahu atas segalanya. Kalau tak seperti ini Tuhan menghakimi, takkan disadari oleh umat manusia bahwa Tuhan itu benar-benar ada dan berhak menghakimi secara langsung. 

Namun, satu hal perlu kusampaikan yaitu bahwa risalah kami saat ini itu adalah risalah penentu. Jangan tak mengindahkannya lagi. Dan tegakkan Kerajaan Eden dengan kekuatan hukum dan undang-undang yang berasal dari Tuhan dan dengan kekuatan hukum dan undang-undang yang berlaku dalam ketatanegaraan Republik Indonesia, dan lebih lanjut menjadi acuan pendapat hukum internasional dalam hubungan ketaatan terhadap Kerajaan Tuhan oleh seluruh bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia ini. Oleh karena itu, diperlukan penyesuaian di antara kedua sendi-sendi hukum itu, hukum dunia dan Hukum Tuhan. Siapa-siapa yang menyadari Kerajaan Tuhan itu terlebih dahulu dan membela serta mendukungnya, kepada merekalah Tuhan akan mewariskan pemerintahan NKRI. Tentunya setelah mereka disucikan. 

Perataan jalan menuju rahmat Kerajaan-Nya terpulang kepada keinginan bangsa dan Pemerintah Indonesia, kemauannya menyudahi penzalimannya terhadap Eden. Ketaatan terhadap Kerajaan Eden diperoleh dari anggapan Pemerintah Indonesia terhadap Eden. Oleh karena itu, Ancaman Keras Tuhan ini khususnya tertuju kepada Pemerintah Indonesia dan teristimewa terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pemimpin negara yang sedang memerintah pada saat Kutukan Tuhan sedang tergenapi. Karena sesungguhnya, celakalah seorang presiden tatkala dia sedang memimpin pada saat Tuhan murka dan sudah melepas Kutukan-Nya secara pasti dan telah menyatakan penggenapan Kutukan-Nya. Dan celakalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang tak bisa menghindar dari pertanggungjawaban dosa-dosa seluruh bangsanya. Karena tiadalah seorang presiden itu luput dari mempertanggungjawabkan semua dosa-dosa bangsanya yang dipimpinnya, terlebih pada saat Tuhan sudah lama menyebarkan Pernyataan-pernyataan-Nya. Maka bila ada calon presiden yang berani mempertanggungjawabkan dosa-dosa rakyatnya sendiri, jadilah presiden! Karena niscaya Tuhan menghadapkan kepadanya pertanggungjawaban kesalahan bangsanya atas kekualatan mereka terhadap Tuhan.  

Jikalau Tuhan sedang berperkara dengan sebuah lembaga keagamaan sebagaimana terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI), janganlah diperturutkan oleh pemerintahnya. Karena kalau itu diperturutkan oleh pemerintah, nasib buruk yang menimpa sebangsa menjadi tanggung jawab presiden dan pemerintah dan MUI, yaitu lembaga asal-usul kutukan. Dan dosa-dosa bangsa yang kualat dan zalim dipertanggungjawabkan secara renteng balik terhadap kekuasaan pemerintah dan presidennya.

Oleh karena itu, anggaplah bahwa semua celaka yang ditanggung bangsa Indonesia pada saat ini adalah bermula dari Fatwa MUI No: Kep-768/MUI/XII/1997 tertanggal 22 Desember 1997, yang tak pernah diralat sampai saat ini. Itu sebabnya kunyatakan MUI-lah muara sumber kekualatan bangsa dan Pemerintah Indonesia.

Daripadanya kujelaskan bahwa tiadalah yang dapat diperbaiki olehnya seberapa pun upayanya, karena dosa-dosa rakyat dan pemerintahnya sudah berakumulasi sebagai kutukan. Dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri sedang menghadapi Penaklukan Tuhan atas pemerintahannya, sebagaimana kekualatannya terhadap kami karena telah mengabaikan Firman-firman Tuhan yang dikirimkan kepadanya sebanyak tiga kali. Dan apabila Tuhan telah memperingatkan pemimpin tertinggi suatu bangsa sebanyak tiga kali dan semuanya telah diabaikan, dan telah membiarkan pengadilan atas Lia Eden dan Muhammad Abdul Rachman Eden terjadi, demikian Tuhan menggenapi Kutukan-Nya dan mengemukakan pembalikan. Menjadilah kekualatan rakyat dan rezimnya terhadap presidennya sendiri, sebaik itu akan menjadi pelajaran bagi semua orang.

Namun bila Anda segera mempercayai kami sebagai Rasul Tuhan, Anda akan kami bela dan kami bantu mengaktifkan segala pemberdayaan, agar Anda sanggup mengatasi segala kesulitan pemerintahan Anda. Gejala keruntuhan pemerintahan Anda saat ini akan kami perbaiki kembali. Dan kami kukuhkan kedudukan Anda kembali. Orang-orang yang bertaubat dan berani membela Kerajaan Tuhan dan Amanat-amanat-Nya, akan diterima Tuhan doa-doanya dan akan diperbaiki nasibnya.
 
Tak ada kesalahan Lia Eden dan komunitasnya yang dizalimi. Itu saja akan diungkap Tuhan menjadi keterangan bahwa segala kezaliman yang marak terjadi di seluruh negeri itu merupakan kebrutalan bangsa yang tersulut oleh kekualatan itu.

Itulah bila iblis yang seharusnya diperangi, tapi keinginan merekalah yang diperturutkan, sehingga Kerajaan Tuhan dan Utusan-Nya dizalimi. Karena itu sudah terjadi, mau tak mau Tuhan membiarkan bangsa Indonesia dikuasai iblis. Demikian kebrutalan pun meruyak tanpa bisa diatasi.

Pembunuhan-pembunuhan mutilasi yang terjadi dapat dianggap sebagai kedigdayaan iblis yang sudah terbuka belenggunya. Dan telah terhadirkan kelahiran-kelahiran bayi malang dengan kelainan tubuhnya yang amat mengerikan, berkaki tiga atau empat, berkepala dua dan berkaki tiga, seperti potongan anggota badan yang ditempel asal-asalan. Sesungguhnya itulah kenyataan pembalasan orang yang mempunyai dosa mutilasi.

Di saat seringnya terjadi horor pembunuhan mutilasi, Tuhan mengindahkan dengan memberi pernyataan kepada umat manusia tentang hukuman pembalasan atas dosa keji tersebut. Namun horor mutilasi itu adalah tanda gejala perubahan kodrat manusia menjadi iblis.
Tahukah Anda bahwa habitat baru bangsa Indonesia itu juga menjadi tanda keterkutukannya negeri ini? Dan maukah Anda sebangsa terlihat sebagai bangsa yang keji seperti setan? Dan bisakah bangsa Indonesia ini dapat mengelak dari sebutan sebagai bangsa jahiliyah? Padahal Tuhan sudah ditengarai sedang menegakkan Kerajaan-Nya dan Surga-Nya di negeri ini. Hanya itulah yang dapat memulihkan nama baik bangsa ini dan bahkan menjadikannya mulia dan terhormat.   

Orang-orang yang kesetanan sungguh amat banyak. Perilaku aneh, brutal dan keji terjadi di mana-mana. Sungguh mahal tebusan dosa kualat itu. Karena malaikat dilarang Tuhan memberi pertolongan. Tapi iblis justru dibiarkan berlaku angkara murka. Segala kerusuhan yang terjadi, itu tak lain adalah Pembalasan Tuhan atas anarkisme masyarakat terhadap Eden. Mereka adalah orang-orang suci yang sedang mengurusi Surga dan Kerajaan Eden. Misalkan setiap kerusuhan itu harus dibayar mahal, bandingkanlah semua kerusuhan yang sudah terjadi itu sebagai pembayaran yang mahal sekali atas anarkisme yang menimpa Eden. Hentikanlah mereka semuanya andai Anda bisa! Dan tenangkan rakyatmu, wahai Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bila Anda sanggup! Bila sebuah bangsa telah membiarkan Kerajaan Tuhan dan para Utusan-Nya dizalimi, maka jadilah mereka bangsa yang zalim. Kuajarkan kepadamu sistem Hukum Tuhan bagi Kerajaan-Nya.

Sia-sialah tuntutan pengadilan yang mengadilinya karena telah mempergunakan pasal 335 KUHP sebagai kesalahan Lia Eden, padahal dia sedang mensucikan Neng dengan api. Tiadalah itu bisa dituntutkan kepadanya. Karena siapa-siapa yang ingin memasuki Eden, hendaklah dia disucikan dengan api. Bila itu yang dipidanakan kepadanya, celakalah yang didapati, apalagi yang terjadi itu adalah semata-mata fitnah Neng dengan Eddy, bapaknya, dan Gozian, saudaranya. Tapi itulah yang diunggulkan pelapor dan Jaksa Penuntut Umum.

Adalah Ketetapan Tuhan mengadakan Neraka. Dan adalah kehendak manusia sehingga terjadi Neraka. Demikian Tuhan menjelaskan keterkaitan fitnah api atas Lia Eden yang dibalas Tuhan dengan gejolak kebakaran yang membara di mana-mana. Nasib dan takdir setiap orang ada di Tangan Tuhan. Apalagi agenda itu menyangkut kehidupan Rasul-Nya, niscaya sudah merupakan keliputan Rancangan-Nya.

Jadi kalau ada yang mengatakan: “Mengapa Lia Eden harus dibela Tuhan dengan menciptakan kebakaran di mana-mana, padahal Dia sendiri sudah tahu akan terjadinya pemfitnahan api tersebut? Mengapa hal itu sebaiknya ditiadakan saja? Setidaknya Tuhan tak perlu membesar-besarkan gejolak kebakaran yang melanda.”

Dan untuk apa Tuhan selalu memadamkan api yang disulut oleh tangan Lia Eden sampai Lia Eden berhasil membatalkan menghukum Neng? Begitulah Tuhan sudah cukup antisipatif terhadap hal itu.

Ketahuilah bahwa untuk menjadikan takdir kehadiran Neraka di dunia sungguh tak mudah. Selalu harus ada alasan yang lengkap sekali dari segala hal yang terburuk, dari kejahatan-kejahatan yang terburuk, penzaliman dan kekejian yang terburuk, dan kekualatan yang terburuk. Dan tiadalah upacara pensucian dengan api di Eden itu akan disoroti publik bila tak menjadi perkara yang memenjarakan Lia Eden. Dan tiadalah dapat terjadi kedaulatan hukum atas Kerajaan Eden sebelum terjadi pemenjaraan atas dirinya. Dan tiadalah Lia Eden itu sanggup menerima Sumpah-sumpah Tuhan yang mengukuhkannya sebelum dia dan Komunitas Eden teruji ketabahannya, dan berhasil melalui pensucian-pensucian berat, dan itu harus melalui peristiwa berat dan pemenjaraan.

Penegaran atas dirinya baru bisa berhasil bila dia sanggup melalui segala rintangan hidupnya selama di penjara. Betapapun kondisi yang dilaluinya, selama proses evakuasinya, penahanan, hingga vonis pemenjaraannya,  itu adalah hal yang tersulit dalam hidupnya, karena dipersyaratkan dia dan Komunitas Eden selalu dalam keadaan tetap suci murni dan benar sejati selama menjalani proses persidangan dan pemenjaraannya. Sungguh sulit menghindar dari masalah pungli dan pemerasan di balik penjara. Dan sungguh sulit menempatkan diri di tengah kepungan dosa-dosa dan sistem yang buruk tanpa terikut terlibat di dalamnya. Dan sungguh sulit bagi Lia Eden dan Komunitas Eden meniti pensuciannya di tengah sistem yang buruk itu.

Kalau menginginkan segenap urusan Peradilan bisa menjadi lancar, bagaimana dia dapat melepaskan diri dari kebiasaan masyarakat menyuap polisi, jaksa dan hakim serta petugas penjara? Padahal itu merupakan penyakit masyarakat yang kronis dan yang pasti tak mungkin ditolak dengan cara apa pun. Namun bila mereka tetap dapat menepati sumpah-sumpah mereka sampai berakhir masa pemenjaraan itu, demikian mereka semua berhasil mempertahankan jati diri Eden dan kesucian mereka.

Kalau Neraka itu harus ada, maka niscaya harus muncul dari peristiwa pelanggaran yang sangat berat. Dan keadaannya itu tentu karena ada peristiwa Kerasulan dan yang secara umum telah terlampiaskan sebagai penolakan atas Rasul Tuhan dan Amanat-amanat Tuhan yang dibawanya. Dan Amanat Tuhan itu adalah justru untuk menyampaikan kehadiran Surga. Dan bila Surga itu harus ada di dunia ini, harus ada kebenaran hakiki yang dizalimi dan menjadi perkara besar, sehingga terlihat kebenaran Surga yang hakiki. Dan bila itu semua harus terjadi, Tuhan menjadikan itu semua melalui alasannya masing-masing. Dan Dia bertindak adil dengan kacamata yang seksama di antara kedua hal itu, di antara semua alasan-alasan terpenting, dan yang amat berharga untuk menjadikan Surga dan Neraka. 

Tiadalah terjadi penganiayaan membakar mulut Neng sehingga dinyatakan mulutnya terluka, karena Tuhan sudah melihat tak ada gunanya mensucikan Neng dengan api, dan bahkan itulah yang akan mencelakai Lia Eden nanti, karena peristiwa pemfitnahan itu sudah merupakan suratan takdir Lia Eden. Maka ketika Neng berdusta berkali-kali dan diancamkan akan dibakar mulutnya, api itu selalu padam dan tak pernah bisa disulutkan, apalagi sebagaimana dalam pengakuan Neng di Pengadilan bahwa hal itu sempat membuat mulut Neng melepuh terbakar sehingga tidak bisa makan selama tiga hari. Itu hanya kebohongan Neng yang memang pendusta, dan ayahnya sendiri adalah pendusta besar. Tapi itu telah menjadi kekuatan iblis yang merasuki mereka demi menghancurkan pekerjaan Ruhul Kudus membangun Kerajaan Tuhan dan Surga Eden.

Tanpa surat keterangan dokter atau rumah sakit, dan tanpa bukti, dan ada kesaksian bantahan dari Marike, ibu kandung Neng sendiri, dan kebenaran itu dapat terjamin oleh segenap kesaksian Komunitas Eden yang suci, dan ada pula jaminan sumpah Lia Eden atas ketidakbenaran tuduhan itu, tapi fitnah itu tetap dipasalkan sebagai dakwaan. Sungguh pengadilan itu telah bertindak amat ceroboh. Demikian kebohongan Neng dipergunakan oleh Jaksa Penuntut Umum yang memperturutkan kehendak para ulama yang ingin menghentikan Eden dan untuk menjerat Lia Eden ke penjara.

Upaya pensucian atas sifat pendusta Neng, itu merupakan sistem pensucian di Eden. Tak bisa didakwakan sebagai pelanggaran pidana, karena pensucian itu mutlak adalah Perintah Tuhan untuk menyudahi kejahatan atau dosa. Apalagi pasal yang dijeratkan atas Lia Eden itu hanyalah fitnah. Maka jadilah Pembalasan Tuhan itu kutukan, dan api kebakaran pun menggelora di mana-mana, tanpa bisa dibantah! Karena kebakaran yang meluas taklah dapat terjadi tanpa Kehendak-Nya, walau kebakaran-kebakaran yang terjadi itu pun karena dosa-dosa uang haram. Namun kutukan akibat fitnah itulah yang menjadikan Neraka, karena pernyataan kedatangan Surga-lah yang terhambat.

Jangan salahkan Tuhan atau kami di Eden atas Pembalasan Tuhan yang berjuta kali lipat itu, karena Surga yang ingin didirikan Tuhan itu pun sifatnya berlawanan dengan Neraka. Kalau Surga tak diamini, jadilah Neraka. Dan Neraka itu adalah gejolak api kebakaran. Semua orang juga tahu kalau Neraka itu disimbolkan dengan api.

Jangan menyangka bahwa seringnya kebakaran itu terjadi adalah karena kebetulan. Beribu-ribu kios di Pasar Turi dan Tanah Abang sudah terbakar. Musibah kebakaran itu bertubi-tubi. Nyaris setiap hari terjadi musibah kebakaran di mana-mana. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Itu karena Tuhan sudah mengumumkan adanya Neraka.
Fitnah api dan tuduhan sesat terhadap Lia Eden itu kini dibalas Tuhan juga dengan api kebakaran dan kesesatan. Sedemikian banyak musibah kebakaran yang meluap-luap, mana mungkin itu hanya peristiwa kebetulan yang bersamaan? Tentu itu adalah Ketetapan Tuhan yang beranjak dari sebuah alasan yang tepat.

Demikianpun tuduhan sesat atas Lia Eden dibalaskan pula dengan kesesatan oleh Tuhan. Di sini ada peradilan yang sesat, peribadatan yang sesat, kebijakan-kebijakan yang sesat, percaturan politik yang sesat. Demikian kesesatan meliputi semuanya, sampai penanganan musibah lumpur panas di Porong-Sidoarjo juga tersesat.
Awaslah terhadap tuduhan sesat terhadap Rasul Tuhan, karena Balasan Tuhan justru kesesatan yang sangat jauh sehingga tak bisa disadari, sampai gunung-gunung meletus dan gempa-gempa berdesakan. Demikian bangsa Indonesia sampai kehilangan arah, tak tahu harus berbuat apa.

Kuhadapkan kepadamu dua macam kesalahan fitnah terhadap Lia Eden. Dan kesalahan itu akan menjadi terkenal karena telah terpandang Pembalasan Tuhan terhadap perbuatan itu. Fitnah telah menganiaya Neng dengan api, dan tuduhan sesat-menyesatkan oleh MUI dan para ulama secara umum, sudah kujelaskan dengan gamblang tentang adanya Pembalasan Tuhan terhadap kedua hal itu. Jangan menganggap itu tak wajar dan berlebih-lebihan, karena semua tuduhan fitnah itulah yang menjadi pasal pemenjaraan atas Ratu Kerajaan Eden dan Surga Eden.

Niscaya Kerajaan dan Surga Tuhan adalah sebuah kepastian dari Tuhan. Maka jangan memandang Pembalasan Tuhan itu keterlaluan atau penjelasanku ini mengada-ada saja, hanya ingin diperhitungkan. Niscaya Kerajaan Tuhan dan Surga-Nya itu maha keramat dan kekeramatannya tak terbatas!

Perbandingan beratnya musibah-musibah yang melanda bangsa Indonesia dan atas kejadian yang menimpa Lia Eden itu adalah sebuah nilai kemudaratan yang dahsyatnya tak terhingga, karena manalah itu dapat terhitung bila Tahta Suci Kerajaan Tuhan itu adalah milik Tuhan yang bertujuan maha mulia bagi segenap umat manusia. Bahwasanya pada kematian-kematian yang amat mengenaskan dalam peristiwa-peristiwa besar kebakaran, itu pun hanyalah pedoman tentang Hari Pembalasan atas dosa-dosa para korban. Siapa yang berdosa sampai harus mengalami kebakaran hingga tewas dan hangus? Tentu ada sebabnya. Jadi, setiap orang itu akan mengalami pembalasan yang sesuai dengan timbangannya. Hanya saja karena negeri ini sudah ditetapkan sebagai negeri kutukan dan tempat yang dinyatakan sebagai Neraka, maka semua musibah kebakaran itu terlihat bertubi-tubi dan dahsyat serta mengerikan. 

Siapa yang bisa menafikannya? Namun peristiwa-peristiwa kebakaran yang terus berkelangsungan harus dipertanyakan, mengapa? Sungguh Kerajaan dan Surga Tuhan dan Rasul-Nya jangan difitnah, karena itu sungguh-sungguh merupakan Rahmat Tuhan Yang Maha Baik. Manalah yang terbaik, menyia-nyiakan Petunjuk Tuhan demi Pensucian-Nya dan membiarkan negeri ini terbakar atau menjadi suci di Surga-Nya?

Kuhadapkan kepada Anda suatu ayat dari Alkitab Surat Matius 3:11 sebagai bukti kesahan pembaptisan dengan api.
 
Alkitab Surat Matius 3:11:

11.
Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
 
Yohanes Pembaptis sudah meramalkan keadaan Rasul akhir zaman yang datang bersama Roh Kudus dan yang membaptis dengan api. Atas bukti adanya ayat tersebut, kami ini tak mungkin dapat dibantahkan atas pembaptisan dengan api yang disulutkan ke seluruh anggota tubuh.

Keadaan yang tak terhindarkanlah yang membakar, tapi api suci yang difitnahkan harus kujadikan pedoman bagi umat manusia bahwa jangan sekali-kali memfitnah Rasul Tuhan karena akibatnya sangat berat. Aku mempunyai perjanjian Surga dan kewenanganku adalah mensucikan. Kalau Anda takut api, Anda takkan pernah sampai ke Surga Eden dan Kerajaan Eden. Itu sudah merupakan suatu ketentuan yang valid, persyaratan yang mutlak!

Sia-sialah menyombongkan diri atas Eden. Pemerintah Indonesia tak mau mempedulikan sedikit pun apa-apa yang telah kusampaikan, karena siapalah yang mau menghargai pernyataan-pernyataan Jibril yang disampaikan oleh Eden yang telah dianggap sesat? Kehinaanlah pembalasan bagi suatu kesombongan. Jadilah hina bangsa ini. Dan itu bagi Tuhan amatlah mudah dan lumrah.

Siapa kini bangsa yang hina? Keruntuhan hukum di Indonesia yang ditandai dengan kesalahan-kesalahan fatwa Mahkamah Agung yang disoroti, tertanda sebagai tak ada jaminan keadilan hukum lagi di Indonesia. Bangsa yang hina adalah karena negaranya tak bisa memberi jaminan hukum dan garansi kelayakan, sebagaimana seluruh penerbangan di Indonesia saja ditolak Uni Eropa. Tujuh Keajaiban Dunia yang disandang Borobudur juga sudah terlepas. Keajaiban malapetaka lumpur di Porong-Sidoarjo juga tak menarik dunia turun tangan sebagaimana seharusnya. Ramai diberitakan TKI-nya dianiaya dan diusir di luar negeri, bak perbudakan yang tak disoroti sebagai ancaman bangsa ini yang dihinakan oleh bangsa lain. Satu per satu kehinaan akan dialami bangsa ini dan disoroti.

Kehinaan bangsa ini akan terus berlanjut, karena relevan dengan aksi terorisme yang meningkat di Indonesia dan maraknya kerusuhan dan malapetaka serta tak terjaminnya hak-hak oleh hukum yang mapan akibat buruknya mafia peradilan dan tak memadai terjaminnya pekerjaan untuk rakyat Indonesia. Sulitnya menghadirkan pengayoman atas hak kebenaran dan tak terjaminkan perlindungan hukum atas pengaduan, ketertindasan atau korban kejahatan. Dan bahkan pengaduan ke polisi bisa berujung pemerasan. Siapa-siapa yang ingin mengadu sudah harus sadar bahwa dia harus menyediakan uang untuk itu.

Sungguh banyak pengangguran di sini sehingga ramai TKI mencari pekerjaan ke negeri-negeri lain, dan menjadilah warga negara Indonesia semacam budak bangsa lain. Protes-protes ribuan buruh yang di-PHK-kan karena investor mengalihkan aktivitas bisnisnya ke negara lain, sebagaimana itu adalah tanda Indonesia telah kehilangan Rahmat-Nya.

Kedukaan ini akan terus berlanjut sampai bangsa Indonesia bertekuk lutut dan memohon ditolong Tuhan dan terpaksa mau mengakui Kerajaan Eden dan Surga Eden, selayak bangsa-bangsa lain juga pada akhirnya sanggup merasakan kebenaran adanya Kerajaan Tuhan di negeri ini. Dan hanya itulah yang dapat mengangkat pamor bangsa dan Negara Indonesia. Yakinlah!  

Setiap kejadian yang menimpa Lia Eden dan komunitasnya akan berbalik serupa kejadiannya. Namun ukuran Pembalasan Tuhan itu sama perimbangannya dengan Penilaian Tuhan atas harkat Kerajaan dan Surga-Nya.

Sia-sialah ketidakpercayaan atas Eden, dan sungguh amat buruk akibatnya karena bangsa dan negara ini pun akan mengalami kehilangan kepercayaan. Dan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kami himbau agar setelah Anda menerima surat kami ini, kami mohon Anda memberikan pengakuan terhadap Kerajaan Tuhan ini. Karena bila tidak dilakukan apa yang kami sarankan ini, maka kutukan yang terberat pun jatuh tempo.

Mohon ancaman kami yang diutarakan di dalam persidangan Lia Eden di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang sengaja direkam dan termuat dalam VCD Eden itu diperhatikan, betapa semua Ancaman Tuhan yang telah disebutkan pada waktu itu sudah terlaksana pada saat ini. (VCD Eden sengaja kami lampirkan) Maka percayalah bahwa ancaman yang kami sampaikan pada saat ini pun takkan luput. Karena kami punya bukti tentang Ancaman Tuhan yang dahulu tertera kini telah terlaksana, maka mana mungkin ancaman kami berikutnya ini hanyalah ancaman kosong belaka.

Tak ada keinginan kami untuk membanggakan diri atas pembuktian kebenaran ucapan kami itu. Ulasan kami ini sekedar memberi pemfokusan atas Ancaman Tuhan tersebut. Karena, sekali lagi, kami dititahkan Tuhan untuk menyampaikan Ancaman-Nya yang berat.

Andai Ancaman-Nya ini kembali dianggap sepele, maka tragedi terdahsyat terpaksa dialami negeri ini. Tak tanggung-tanggung penderitaan itu. Dan Anda sendiri dijadikan Tuhan sebagai monumen pengingkaran dalam sejarah Keilahian pada saat ini. Padahal mana mungkin Tuhan gagal mengeksiskan Kerajaan-Nya? Dan penistaan Tuhan terhadap Anda dan negara Anda itu niscaya terpaut dalam keliputan isi Kitab Suci yang sedang diturunkan Tuhan.

Dan segala kutukan yang sudah terlepas tak mungkin jauh kenyataannya dari nasib buruk bagi Anda, karena Penghakiman Tuhan atas diri Anda pada saat ini terkemukakan sebagai penghakiman atas reinkarnasi Raja Astina, Raja Suyudana. Setiap kesalahan dalam sejarah dunia dan sejarah spiritual diangkat Tuhan untuk menjadi perhatian publik dunia di Hari Penghakiman-Nya ini. Taklah Indonesia dijadikan tempat domisili Kerajaan-Nya di akhir zaman dan taklah Anda akan kami nyatakan identitas ruhnya seandainya pernyataan Hari Pengadilan dan Penghakiman Tuhan itu bukannya ditetapkan Tuhan terjadi di negeri ini.

Aku takkan mengemukakan identitas ruh seseorang sebelum tiba waktunya dan belum tersanggupkan keadaannya. Menyebutkan identitas ruh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai reinkarnasi Raja Astina, Suyudana, itu demi menjadikan lebih jelas kandungan kesalahan apa atas seseorang itu sehingga harus diadili Tuhan dengan pengutukan berat atas dirinya bersamaan dengan kutukan terhadap bangsa yang sedang dipimpinnya. Semoga penjelasanku tentang identitas ruh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini mau diamati sebagai tuntutan dakwaan oleh Mahkamah Pengadilan Tuhan dan sekaligus dapat menjadi kajian tentang dinamika Hari Penghakiman, karena penjelasan kami tentang hal ini akan terus berkelangsungan menghadapkan penjelasan Pengadilan Tuhan atas pemimpin-pemimpin dunia yang lainnya.

Demikianpun kuungkapkan bahwa ajaran hukum reinkarnasi itu sungguh jauh jangkauannya. Sebagaimana ingin kuutarakan nasib para hakim yang mengadili dan menyalib Yesus dahulu itu pun yang mengadili dan yang membakar Joan of Arc, dan di zaman ini terbangkitkan sebagai orang-orang yang terlibat mengadili Lia Eden dan Muhammad Abdul Rachman Eden di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kesalahan mereka yang terdahulu dan yang terkini itulah yang patut dinyatakan Tuhan layak disebutkan sebagai orang-orang yang bertanggung jawab atas jatuhnya Ketetapan Tuhan terhadap Kutukan-Nya yang sangat berat pada saat ini, sebagaimana dinyatakan Tuhan bahwa mereka telah divonis Tuhan menjalani Hukuman-Nya berupa perubahan kodrat menjadi iblis. Demikian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menghalalkan persidangan atas Kerajaan Tuhan dan para Hakim dan Jaksa Penuntut Umum, dan para pelapor, dan para saksi yang memberatkannya itulah terpulang sebagai para terdakwa yang menyebabkan Kutukan Tuhan itu terlepas.

Tengoklah Murka Tuhan kepada Anda itu. Apakah semua halangan bagi pemerintah Anda itu hanya sebuah kegagalan? Baik-baik menyimak risalahku ini, karena akulah Hakim Allah yang wajib membicarakan setiap kasus Peradilan Tuhan. Jangan membantah keteranganku ini. Sadarilah bahwa himpitan dilema politik dan malapetaka-malapetaka sudah Anda alami. Setiap saat Anda bisa celaka. Apalagi yang belum Anda patutkan dalam penjelasan kami ini?

Apakah Anda amat sedih melihat penderitaan rakyat Anda yang sengsara karena rumah-rumah mereka tenggelam oleh lumpur di Sidoarjo? Apa yang bisa Anda lakukan kala mengunjungi tempat mereka di sana? Hanya merana dan menangis dan memberi bantuan ala kadarnya dan menekan PT Lapindo Brantas untuk membayarkan ganti rugi.
Andai PT Lapindo Brantas tak cukup memadai menggantikan seluruh penderitaan penduduk di sana, apakah Anda sebagai presidennya bisa melepas tanggung jawab atas hal itu? Taklah seorang presiden akan dibebani Tuhan pertanggungjawaban seberat itu bila Anda itu adalah presiden yang diberkati.

Taklah Anda cukup mumpuni untuk merelokasikan semua korban lumpur itu ataupun memberinya ganti rugi atau harta bendanya yang musnah. Dan Anda menugaskan PT Lapindo Brantas, padahal bencana ini adalah bencana kutukan terhadap pemerintahan Anda. Kamilah yang menyatakan hal itu.

Sungguh seluruh penderitaan korban lumpur Porong-Sidoarjo dapat dituntutkan secara langsung terhadap semua oknum yang memenjarakan Lia Eden dan Muhammad Abdul Rachman Eden. Ketentuan itu wajib kusampaikan sebagai tuntutan balik dari Kerajaan Tuhan. Apabila tuntutan kami ini dianggap salah dan membelokkan arah asumsi masyarakat, sungguh percayalah kalau kami ini dapat membuktikan pernyataan kami ini benar. Karena bila hanya kamilah yang dipercaya menyudahi Kutukan-Nya di sana, maka jelas pula alasan kami yang menyebutkan siapa-siapa yang sesungguhnya bersalah itu pun wajib diakui.

Sungguh bila masyarakat mengetahui apa penyebab kutukan di Porong-Sidoarjo itu, mereka akan menyesali pemerintahnya, apalagi melihat pemerintahnya ingin lepas tanggung jawab dan membiarkan PT Lapindo Brantas-lah yang harus bertanggung jawab. Maka kamilah yang akan menghadapkan mereka semua ke Mahkamah Allah.

 
< Prev   Next >
Donwload Risalah Ruhul Kudus   
Download PDF