| Maret 2009 |
| Desember 2008 |
| Oktober 2008 |
| Mei 2008 |
| Risalah Sumpah Tuhan |
| Risalah Fatwa Mahkamah Tuhan |
| Risalah Surat Ruhul Kudus |
| Download Risalah |
| Surat Pengantar |
| Penghapusan Semua Agama |
| Surga |
| Neraka |
| God's Revelation |
| Holy Spirit's Letter |
| Risalah Surat Ruhul Kudus | |
|
Tuhan Mengangkat Rahmat-Nya dan Tak Mengabulkan Doa Kemandirian dan kemapanan Kerajaan Tuhan tak dapat ditandingi. Bangsa Indonesia patut mensyukurinya. Nama baik bangsa dan Negara Indonesia akan menjadi harum dan dihormati seluruh bangsa-bangsa dan negara-negara. Pentakziman bangsa-bangsa dan negara-negara secara hukum niscaya diupayakan Tuhan sesegera mungkin terlaksana, karena masalah-masalah dunia sudah amat mendesak. Secara sah pentakziman seluruh bangsa-bangsa itu tak bisa dibantah, karena Tuhan niscaya selalu punya cara untuk menjadikan hal itu.Setiap kesombongan niscaya dibalaskan Tuhan dengan kehinaan. Begitulah pada kenyataannya, saat ini bangsa dan Negara Indonesia tak dihormati lagi oleh negara-negara lain, bahkan telah dilecehkan. Keadaan itu terjadi karena kesombongan bangsa Indonesia yang tak mau mengakui Kerajaan dan Surga-Nya di negeri ini, sehingga Tuhan pun menghinakan bangsa ini, dan memaksa bangsa Indonesia berharap kepada Tuhan, agar tak dipermalukan oleh bangsa-bangsa dan negara lain. Demikianpun bila ada negara-negara lain yang tak menghargai keberadaan Kerajaan Eden di Indonesia ini nanti, tiadalah yang lain selain kesulitan yang akan menimpa bangsa dan negara itu. Bagaimanapun, hanya dengan mengakui pembakuan Kerajaan dan Surga Tuhan di negeri inilah yang sanggup memulihkan harkat bangsa Indonesia, bahkan melambungkannya menjadi negeri yang diakui sebagai kiblat seluruh bangsa-bangsa dan negara-negara. Takkan ada jalan yang lain, karena itu memang sudah menjadi takdir yang tercatat bagi bangsa Indonesia. Keadaan yang kami maksudkan ini jangan tak dipercaya, karena kebakuan Kerajaan dan Surga Tuhan di negeri ini sudah pasti dan takkan surut lagi, seberapa pun penolakan atasnya. Demi mengurangi bala-bala akibat penolakan, maka adalah lebih baik segera menerimanya, supaya segalanya kembali menjadi lancar dan suci. Pada saat sekarang ini, seluruh negeri ini telah menjadi wilayah Kutukan Tuhan. Tuhan mencabut Rahmat-Nya atas negeri ini, sehingga sungguh sulit doa itu terkabul. Bahkan sebaliknya, sumpah-serapah dan kutukanlah yang makbul. Siapa-siapa yang mengeluarkan ucapan-ucapan yang mengandung kutukan, justru itu yang gampang terkabul. Dan sungguh amat sulit mendatangkan Berkah dan Rahmat Tuhan. Sebagai contoh yang mudah dideteksi ialah doa massal pertaubatan nasional dan permohonan penyurutan malapetaka yang dipanjatkan oleh masyarakat maupun pemerintah dan berbagai kalangan kaum agamawan, tak ada yang dikabulkan Tuhan. Bencana-bencana dan musibah-musibah justru semakin sering terjadi dan semakin buruk. Bahkan semenjak hari Idul Fitri, tertera begitu banyak musibah yang melanda. Padahal bila mencermati isi Perjanjian Tuhan atas Islam, tiadalah gempa, banjir dan gunung meletus serta berbagai kebakaran dan kecelakaan itu patut terjadi setelah umat-Nya menjalani pensucian selama bulan Ramadhan, dan semuanya berhikmat kepada Allah merayakan Idul Fitri. Mengapa Tuhan melakukan itu? Perlu dipertanyakan bukan? Nah, inilah semua Jawaban Tuhan, sudah menjadi Risalah. Ini pun sebagai bukti bahwa Tuhan memberlakukan suatu masa jeda untuk tak mengabulkan doa yang dipanjatkan melalui berbagai ritual dari semua agama, untuk menjadi tanda Sikap-Nya atas Fatwa-Nya tentang Fatwa Penghapusan Semua Agama-agama. Namun yang sungguh paling berarti bagi-Nya adalah demi pengakuan atas Kerajaan dan Surga-Nya. Niscaya kepada Tuhan-lah berbalik pertanyaan, “Untuk apa Tuhan membuat banyak agama-agama dan agama mana yang baku sebagai agama-Nya?” Sebab, kalau dinantikan bukti pengakuan-Nya tentang agama mana yang paling diberkati atau yang paling diunggulkan-Nya, pertikaian agama-agama pun takkan berkesudahan. Dan apabila Tuhan ingin meluruskan segala yang dipertikaikan itu, tentu Tuhan akan menunjukkan kepada semuanya bahwa agama mana yang paling sedikit melakukan kesalahan, padahal setiap agama itu didapati umatnya cenderung saling menyalahkan umat agama lain. Dan Tuhan pun seyogyanya memberlakukan interpretasi doktrin-doktrin pada semua agama-agama harus dibuat sama. Mana mungkin? Bahasa agama dan Kitab Sucinya saja berbeda-beda. Dan kultur yang mendasarinya pun tak mungkin dibuat sama, apalagi kelancungan penafsiran ayat-ayatnya sudah membelantara. Tak ada yang bisa dilakukan-Nya kecuali menghapuskan semua agama-agama dan mempertautkan lagi semuanya melalui esensi keabadian kebenaran yang simple. Semua hal memang telah dipersaingkan. Takkan ada kata-kata ‘agama kamilah yang paling benar’ lagi, karena kebenaran hakiki ada pada semua agama. Lalu, kalau yang harus dipilih itu adalah yang paling sedikit mencederai agamanya, apakah agama itu adalah yang paling sempurna, yang paling tidak pernah melakukan kelancungan interpretasi dogma atau kesesatan? Padahal keadaan semacam itu sudah menjadi kesalahan yang umum atas semua agama-agama. Peribadatan yang rumit dan tak mengena telah menghinggapi semua agama-agama. Perkembangan semacam itu memang sulit dihindarkan karena doa-doa itu kini tak mudah dikabulkan Tuhan akibat perbuatan umat manusia sendiri yang menyukai dosa. Dosa-dosa itu semakin berat dan berlapis-lapis. Dan demi mencapai kemakbulan doa, begitulah sekte-sekte agama pun berkembang pesat dan peribadatan agama pun berkembang bermacam-macam dan semakin rumit dan tak masuk akal. Dan kesalahan-kesalahan semacam itu justru sudah menjadi klaim-klaim kebenaran dan ajaran yang terbenar di antara semuanya. Agama mana yang belum pernah melakukan hal semacam itu? Tuhan itu sungguh Maha Esa, Tuhan semua orang dari semua agama-agama. Penghapusan Semua Agama-agama adalah Kebijakan Tuhan yang paling tepat agar semuanya mawas diri, berendah hati, introspeksi menilai kelalaian masing-masing, dan berkenan menelusuri kesalahan masing-masing. Sungguh Tuhan itu Maha Esa. Maka tunggalkanlah Dia. Semacam itulah yang telah membuat Tuhan menghakimi semua agama-agama. Sungguh ritual peribadatan itu kini disederhanakan. Sungguh amat sederhana, karena kini setiap orang dapat merasakan Firman-firman Tuhan secara langsung. Dan menjadilah semua umat cukup hanya berhikmat kepada Kerajaan-Nya, dan berdoa langsung kepada Tuhan dengan cara yang sederhana, yaitu bersujud dan mengangkat doa. Selepas mengucapkan doa, kembali bersujud menyatakan kesudahannya memanjatkan doa. Jalan yang paling mudah itu ialah menjadi jujur dan benar. Setiap orang dapat menggunakan bahasanya masing-masing, bahkan dengan bahasa daerah sekalipun. Doa dikabulkan hanya melalui satu cara, yaitu kesucian. Maka tak diperlukan lagi aneka macam ritual yang sulit dan merepotkan. Sungguh kini yang sulit dan merepotkan dalam menghadap Tuhan adalah justru Pensucian-Nya, karena semua orang harus berani tegar untuk disucikan. Padahal tak satu pun orang di dunia ini yang sanggup menghindari Pensucian Tuhan. Oleh karena itu, adalah lebih baik segera mempersiapkan diri mensucikan diri sendiri. Melompatlah ke Alam-Nya sesegera mungkin, dengan cara segera memperbaiki diri dan menjauhi dosa. Suatu hari kelak, publik akan terbiasa menerima kedatanganku di tengah masyarakat. Dan aku tak berceramah tentang agama, melainkan mendiskusikan masalah dan memberi petunjuk dengan jelas, jalan keluar segala masalah dan menyampaikan Fatwa-fatwa Tuhan. Takkan mendua kepribadian Jibril yang menyosok, karena semua iblis dan setan takkan dapat menyaru sebagaimana penjelmaanku. Lia Eden telah disucikan. Tak ada lagi celah bagi iblis untuk sanggup menyarukan dirinya. Sungguh itu adalah liputan hukum dan undang-undang hukum akhirat. Takkan terjadi penjelmaan malaikat menjadi manusia sebelum ada orang-orang yang suci murni di kalangan manusia. Dan malaikat yang diperkenankan memfisik sebagai manusia, hanyalah bila dia menjabat sebagai Rasul-Nya di kalangan manusia, karena sesungguhnya malaikat berkodrat gaib dan tak bisa tampil nyata. Dan adanya malaikat yang menjadi Rasul Tuhan di kalangan manusia, hanya terjadi di zaman akhir, menjelang kiamat saja, demi Hari Penghakiman-Nya. Setelah ada Sumpah Tuhan yang memberkati penjelmaanku di dunia ini, berarti ada sebuah pengecualian spektakuler. Takkan ada Ketetapan Tuhan semacam itu sebelum datangnya Hari Penghakiman Tuhan seperti sekarang ini. Malaikat tampil nyata demi untuk melaksanakan Hari Penghakiman Tuhan. Aku dan Lia Eden adalah seperangkat Hakim Tuhan di Hari Pengadilan-Nya pada saat ini, demi untuk mengadili segenap makhluk-Nya di dunia ini. Dan mukjizat penjelmaanku sebagai Lia Eden itu berdasar Sumpah Paduka Yang Maha Mulia Tuhan Yang Maha Bestari, Yang Maha Keramat dan Maha Sakral. Oleh karena itu, seluruh iblis pun takluk dan menjaga Sumpah Tuhan itu. |
|
| < Prev | Next > |
|---|