LE2-34-777






Risalah Surat Ruhul Kudus

Lia Eden Dipingit Tuhan 

Sementara Lia Eden yang sejati tak mengembara seperti aku. Justru dia dipingit Tuhan di Eden, tak berkewajiban menyambut tamu sebagaimana layaknya seorang yang berkewenangan sebagai ratu yang berdaulat.

Kelak seluruh dunia akan menganggap dia adalah Utusan Tuhan yang dimuliakan, sehingga banyak orang yang ingin menemuinya. Namun tak dibenarkan kepadanya menemui siapa pun sebelum mereka menempuh pensucian dari Ruhul Kudus. Hanya kalangan yang berminat bersuci total yang diperkenankan ditemui olehnya.

Aku ini bisa tampil nyata memfisik. Jadi masyarakat itu tak perlu meragukan keberhasilanku mengurusi masalah-masalah, sebaik aku ini memiliki kekuatan gaib yang terbaik. Di dalam prakarsa-prakarsaku yang nyata, semua urusan Kerajaan dan segala masalah dunia yang terpenting akan kuatur sendiri secara langsung melalui ketentuan baku perundang-undangan dan hukum negara dan hukum internasional, dan melalui sinkronisasinya dengan Perundang-undangan Hukum Tuhan.

Kami meliputi segenap urusan duniawi dan masalah-masalah umat manusia secara seksama. Melalui pernyataan kami itu saja, dapat dibayangkan betapa segala urusan itu mewajibkan kami dapat menjelma sesering mungkin di tengah masyarakat. Manalah Tangan Tuhan terbatasi. Akan tetapi, Lia Eden jangan diharapkan berkemampuan bak superwoman, karena dia diserahi Kerajaan dan Surga-Nya. Dia jelas-jelas tak berkewenangan untuk hal itu, karena dia tak diberi pengetahuan tentang hukum apa pun. Dia hanya menuliskan apa-apa yang dituntunkan kepadanya. Dia tak terlibat pada urusan keluar, sebab itu adalah tugas dan kewenanganku. Takkan ada antrian panjang untuk bersilaturahmi dengannya, karena Tuhan memperkenankan dia bergaul hanya dengan Komunitas Eden saja.

Demikian adanya ramalan Jayabaya tentang Ratu Adil dan Satrio Piningit, sebuah misteri teka-teki di baliknya. Siapa sang Ratu Adil dan siapa sang Satrio Piningit? Ternyata kedua hal itu terpadu menjadi satu dalam dirinya.

Setiap nubuah akan terjawab pada waktunya. Dan setiap jawabannya itu takkan terjadi tepat seperti yang dinubuahkan tanpa Campur Tangan Tuhan sendiri. Siapa yang bisa membuat penampakan dirinya di luar dirinya dan bukan atas kehendaknya sendiri? Dan siapa yang bisa mendidikkan keadilan sejati yang terjamin kukuh kepada seseorang? Dan siapa yang bersedia berpegang teguh pada prinsip keadilan sejati karena ketaatan dan rasa takutnya yang amat besar kepada Tuhan, walau tantangan atas hal itu terlalu berat? Dan siapa yang bisa memberi kedudukan seorang ratu sejagad bila itu bukannya Kehendak dan Ketentuan Tuhan? Dan apalah gunanya memingit dia kecuali untuk menghindarkan kerancuan tugas dan kewenangan Malaikat Jibril? Sebuah alasan yang tak mungkin dibuat-buat sendiri. Demikian semua jawaban itu adalah merupakan kesatuan konsep Ilahi.

Percayalah, sistem Kerajaan Tuhan itu sudah diatur sedemikian rupa. Takkan terjadi kekeliruan pengaturan yang tumpang tindih di antara aku dan Lia Eden walau kami serupa, karena Lia Eden bertaat mutlak kepada Tuhan dan kepadaku. Segala Pengaturan Tuhan atas pemingitan Lia Eden itu sudah merupakan kesatuan dalam konsep penjelmaan Ruhul Kudus di kalangan manusia. Demikian Ketentuan Tuhan atas dirinya sampai segala protokoler dan tata tertib Kerajaan Eden dapat dikenali semua orang, dan seluruh umat manusia patuh dan merayakan kehadiran Kerajaan Tuhan dan Surga-Nya.

Kehadiranku di tengah masyarakat dunia dan kehadiran Wahyu-wahyu Tuhan dan Fatwa-fatwa-Nya mendunia serentak tak tertahankan. Dan kepada masyarakat luas kuumumkan bahwa penampakanku yang nyata itu dapat terjadi serentak di beberapa tempat, di dalam negeri maupun di luar negeri, sehingga akan terjadi berbagai pemberitaan tentang penampakan dan keajaiban-keajaiban Ruhul Kudus. Maka tidaklah keliru pemberitaan tentang diriku yang terjadi pada waktu yang bersamaan namun berbeda peristiwa dan tempat kejadian.

Oleh karena itu, mohon dimaklumi mengapa Tuhan sengaja memingit Lia Eden. Semua itu demi mengingatkan bahwa semua yang terjadi atas diri Lia Eden dan keterpilahannya dengan penjelmaanku yang serupa dengannya itu, semata-mata adalah sebuah konsep artistik ‘tribute for the twin angels’. Kalau itu bisa disebutkan sebagai rangkaian kegiatan dewa kembar, tentu gambaran nyata itu telak adalah produk Kuasa Tuhan. Keberadaanku di tengah publik sangat fantastik, seperti Senyuman Tuhan yang sedang menjadi kenyataan. Begitulah aku yang menjadi kenyataan demi mengatur segala hal melalui Cara Tuhan sendiri, sehingga Kehadiran Tuhan pun terasa nyata.

Lia Eden dan penampakanku yang bisa berganda itu tepat sekali untuk menghasilkan adaptasi malaikat di kalangan manusia, sekaligus menjadi ciri khas Eden. Keajaiban itu justru sangat penting untuk menyatakan, “Inilah Kerajaan Tuhan!” Sesuatu yang tak mungkin terjadi di kalangan umat manusia begitu saja.

Sebutkan saja sosok Lia Eden itu hanyalah sebuah perwujudan yang terpilih. Siapa pun akan bertanya tentang segala keajaiban yang terjadi yang mengaitkan dirinya. Tuhan sengaja memperlihatkan Lia Eden itu mempunyai banyak kekurangan dan keterbatasan. Siapa pun akan menyangka dia adalah Jibril, karena tak mungkin orang bisa membedakannya denganku secara fisik disebabkan sempurna kesamaannya. Sesuai dengan itu, mohon pemingitan atas dirinya itu dimaklumi sebagai Ketetapan Tuhan yang baku. Maka, Ketetapan Tuhan atas dirinya itu mohon dipatuhi. Oleh sebab itu, Tuhan menjadikan dia lemah. Bila dia tak diinginkan menemui tamu, maka dia diberi pembatas dari dalam dirinya sendiri. Tak terelakkan gangguan gaib di dalam tubuhnya, mengakibatkan dia tak sanggup untuk menemui tamu.

Tuhan menjadikan dia tak betah menghadapi tamu sehingga dengan sendirinya terbit dalam dirinya keengganan ditemui tamu. Apalagi bila Tuhan tak berkenan dia menemui orang yang tak dikehendaki-Nya, sementara Lia Eden tak menyadarinya. Dia dapat dibiarkan Tuhan tergolek lemah tanpa dapat bangkit. Jadi, jangan salahkan dia kalau dia tak sanggup menemui Anda, seberapa pun dekatnya Anda dengannya pada masa sebelumnya. Begitulah dia diperlakukan Tuhan supaya semua orang takkan mengandalkan dia dan tak memaksakan diri untuk menemuinya. 

Atas Perkenan Tuhan kepadanya, dia hanya menjaga kesucian Eden dan menuliskan Wahyu-wahyu Tuhan dan Risalah Ruhul Kudus, sampai mapan Kerajaan dan Surga Eden itu. Sungguh hanya itulah tugasnya, karena kepadakulah segenap pelaksanaan Amanat-amanat Tuhan dan segala perbaikan.

Tak terjadi kedaulatan Surga Eden sebelum Kerajaan Eden diterima. Sebab itu, tatkala periode pemenjaraan Lia Eden di Rumah Tahanan Pondok Bambu, Kedaulatan Hukum Kerajaan Tuhan mulai ditanamkan, selayak segala malapetaka beruntun terjadi dan kesadaran hati nurani pun mulai terbuka.

Bila ada orang yang dipenjara karena mendeklarasikan God’s Kingdom, maka selanjutnya hal itu bisa diprediksi sebagai kebohongan atau kebenaran sejati. Karena takkan ada orang yang berani mengatakan hal sebesar itu tanpa ada jaminan dari Tuhan, dan tak terlihat bermukjizat. Padahal sulit menafikan mukjizat yang dimiliki Lia Eden, setidaknya kesembuhan pada orang-orang yang diobatinya, dan kemampuannya menuliskan risalah secara terus-menerus, sedangkan isi risalah di luar pengetahuannya. Orang-orang di Rutan Pondok Bambu adalah saksi atas segala sikap dan perbuatannya. Selama 20 bulan mereka selalu bersama-sama di penjara. Banyak hal yang dapat diperbincangkan oleh mereka sebagai kesaksian terhadap Lia Eden. Niscaya semua itu adalah Perkenan Tuhan menempatkan Lia Eden di tengah masyarakat dengan waktu yang cukup lama untuk mengkaji dia, apakah dia sesat ataukah benar adalah seorang Utusan Tuhan.  

Kalau pemenjaraannya itu tak menjadikan langkahnya surut dan dapat dienyahkan, orang-orang pun boleh berpikir yang sebaliknya. Bila Lia Eden dipenjara, sedangkan kalau dia itu Utusan Tuhan yang sejati, niscaya Tuhan murka. Dan pada kenyataannya memang demikian, Tuhan telah memperlihatkan bahwa Dia murka sekali.

Pemenjaraan atas dirinya bersamaan waktu dengan gemuruhnya segala bencana. Dan hal itu sudah dicanangkan sewaktu di persidangannya. Nyata sekali hal itu sangat tepat dan tak bisa diingkari. Dengan begitu, cakrawala kedaulatan hukum Kerajaan Eden sudah mulai terbuka.

Sebaliknya, serentak kedaulatan hukum NKRI mengalami pengeroposan. Separatisme tiba-tiba menguat. Maraknya anarkisme dan kebiadaban menggoyang tatanan hukum, karena terlihat kewibawaan pemerintah tak sanggup menguasai keadaan kalut itu. Tatanan hukum seakan tak berlaku. Front Pembela Islam (FPI) yang seringkali main hakim sendiri tak ditindak tegas. Demikian perilaku masyarakat yang ekstrim dan melanggar hukum telah dibiarkan. Hubungan internasional dengan beberapa negara menjadi terganggu, karena perilaku bangsa Indonesia yang mengisyaratkan negaranya sedang lemah. Maka bangsa-bangsa lain mudah saja melecehkan bangsa Indonesia.   

Meluasnya korupsi dan kesungguh-sungguhan Pemerintah Indonesia memberantas korupsi layak disamakan sama-sama basah kuyup. Karena tak terhenti kebiasaan korupsi walaupun diberantas. Mau apa kalau yang kini basah kuyup terkena rezeki uang koruptor itu justru adalah para penegak hukum di pengadilan dan petugas di penjara? Jadi, sama-sama korupsi saja! Sekarang siapa yang akan memberantas korupsi itu di tubuh lembaga-lembaga hukum? Adakah yang lebih berkewenangan dari itu? Seperti borok yang meruyak ke seluruh tubuh, betapa keparahan keadaan itu sudah mencapai keadaan maksimalnya.

Demikian bangsa Indonesia sangat mengharapkan tegaknya supremasi hukum. Bangsa ini telah jenuh dengan pembodohan dan komersialisasi hukum, sehingga mengidamkan untuk disucikan.

Sementara itu, kami ini sudah mengusung Sumpah-sumpah Tuhan yang maha sakral, dan segera terlaksana segala Janji-janji Tuhan yang tertera di dalam Sumpah-sumpah-Nya. Peranan Tuhan pun akan segera menarik perhatian. Kedahsyatan Mukjizat-Nya luar biasa tak tertandingi.

Apa boleh buat, segera semua orang yang ingkar tak bisa beringsut dari kesalahan-kesalahannya karena telah memusuhi kami atau setidaknya tak mau mengakui keberadaan kami sebagai Utusan Tuhan, terpaksa mengamini kebenaran kami ini. Secara bertahap semuanya akan sadar dan akan menyambut gembira Kerajaan Tuhan ini.

Suatu yang awal dipentingkan-Nya adalah Tuhan akan memaksakan kedaulatan hukum Kerajaan Eden itu melalui penanganan bencana luapan lumpur panas Porong-Sidoarjo. Saatnya kuakui bahwa bencana lumpur panas itu terjadi semata-mata demi mengaktifkan proses keberdaulatan Kerajaan Eden. Maka dipatutkan Bantuan Tuhan terbentang melalui Kerajaan Tuhan jua. 

Kalaulah semua orang di negeri ini sudah putus asa memikirkan jalan keluar bencana itu, ada baiknya memberi kesempatan kepada kami untuk mengatasinya. Kami bersumpah akan memberikan ganti rugi kepada segenap korban lumpur panas Porong-Sidoarjo sesuai dengan kerugian masing-masing. Dan ganti rugi tersebut niscaya kami hadirkan melalui penyitaan uang-uang hasil korupsi para pejabat.

Adalah kewajiban kami menggantikan semua kerugian dan menolong semua korban sampai mereka semua tenteram dan sejahtera kembali. Dan adalah Tuhan itu Maha Baik dan yang bertanggung jawab memperbaiki keadaan di tempat bencana lumpur di Sidoarjo tersebut. Dan adalah hanya Tuhan saja yang sanggup menggantikan penderitaan semua korban lumpur tersebut.

Dan semua ini adalah Janji Tuhan kepada kami dan kepada bangsa Indonesia, terkhusus terhadap para korban luapan lumpur panas Porong-Sidoarjo. Tiadalah sia-sia pengorbanan mereka itu. Karena sesungguhnya, setelah Komunitas Eden berhasil disucikan, berikutnya para korban lumpur panas Sidoarjo itulah yang diharapkan menjadi warga Indonesia yang tersucikan oleh Tuhan pada periode awal pensucian bangsa Indonesia.

Demikian bencana lumpur panas Sidoarjo itu kini telah sampai kepada kemaksimalan kebuntuannya, karena tak ada cara yang dapat menghentikan luapan lumpur tersebut. Semua pihak telah tak sanggup berbuat apa pun selain membuat tanggul yang seringkali jebol. Pada saat yang sama, Lia Eden pun sudah sampai kepada saat-saat kebebasannya.
Sumpah-sumpah Tuhan sudah diwahyukan semuanya. Keberdaulatan Hukum Kerajaan Tuhan sudah di ambang pintu. Mukjizat-mukjizat Tuhan sudah terbuka dan dapat terlaksana oleh kehadiran Sumpah-sumpah Tuhan.

Gemuruh gempa-gempa, gunung-gunung meletus, banjir dan tanah longsor sejak bulan September 2007 yang lalu melonjak. Itu semua tanda alam menyambut Sumpah-sumpah Tuhan yang sudah terlepas, dan kami hanya tinggal menunggu saat kebebasan Lia Eden, dan membiarkan masyarakat akan menilai sendiri. Demikianlah kami mengajukan diri kepada bangsa Indonesia ini untuk membenahi keadaan di Sidoarjo.

Kerajaan Eden tak mungkin muskil. Sumpah Tuhan sudah menjaminnya dan tak mungkin sengaja diada-adakan sendiri. Siapa yang berani?

Setelah mapan Kerajaan dan Surga Eden, segalanya akan berjalan sesuai dengan Sistem Tuhan yang diberlakukan, sehingga semuanya akan terbakukan. Dan segala hal pun akan di bawah Kendali Tuhan secara langsung. Komunitas Eden hanya sebagai tiang penyambut Kerajaan Tuhan dan Surga-Nya. Selebihnya akan terkondisikan dan menjadilah kedaulatan Kerajaan Tuhan yang seksama di bawah Kendali dan Otoritas Tuhan sendiri secara langsung.

Mungkin Anda berminat bersuci agar dapat dekat bersama-Nya di Eden. Sesungguhnya itulah yang diharapkan kami. Semakin banyak yang ingin dekat dengan Tuhan di dalam Surga Eden atau Kerajaan Eden, akan membuat semakin baik keadaan manusia itu sendiri.

Kerajaan Tuhan itu maha kuat, karena niscaya Kerajaan Tuhan itu sekukuh langit dan bumi. Justru perbaikan atas nasib umat manusialah yang dituju. Karena semakin banyak manusia yang suci, semakin banyak Rahmat Tuhan yang tercurah karena sistem hukum dan sosial pun beranjak membaik.

Aku tak mungkin mau ditanyai, “Apakah para Rasul Tuhan itu akan menjabat jabatan birokrasi?”

Harapan dipimpin oleh pejabat yang suci itu sangat didambakan. Itu sebabnya Tuhan memprioritaskan pensucian pejabat. Bukanlah para Rasul Tuhan di Eden yang kami persiapkan untuk itu. Fatwa-fatwa Tuhan untuk mengatasi segala kebuntuan hukum segera akan mengalir bersamaan dengan pengukuhan Mahkamah Agung Tuhan.

Tuhan memberdayakan hukuman pemotongan jari tangan bagi koruptor, penyuap, pencuri, dan pelaku kejahatan yang semacam itu, dan bahkan diprioritaskan terhadap para petugas negara yang menerima suap atau upeti. Aliran uang di negara itu harus lancar, tak terkendala oleh mereka yang menanti disuap demi mendapatkan tanda tangannya ataupun persetujuannya. Dan mereka yang menyuap dikenai sanksi yang sama. Oleh karena itu Tuhan akan memberi kesempatan pertaubatan terlebih dahulu. Dan pergunakanlah kesempatan itu sebaik-baiknya. Karena setelah masa itu selesai, barulah sanksi pemotongan jari atas dosa-dosa korupsi dan penyuapan akan dilaksanakan. Tiadalah yang dapat menghindar dari Penghakiman Tuhan itu. Dan janganlah pernah beranggapan bahwa koruptor lama dan yang telah pensiun dapat menghindari Ketetapan Tuhan itu. Yakinlah!

Demi kelancaran pelaksanaan Hukum Tuhan itu, kami para malaikat akan membantu pekerjaan petugas yang berkewenangan atas hal itu, dan memudahkan mempertemukan mereka kepada kasus-kasus yang ditanganinya. Kami sanggup membongkar kasus dan menangkap basah pelaku pada saat yang tepat. Karena itu sudah merupakan prioritas tugas kami demi keberhasilan pelaksanaan Hari Penghakiman/Hari Pembalasan. 
        
Fatwa Hukum Tuhan tentang pemotongan jari tangan bagi koruptor niscaya ampuh dapat mengenyahkan kebiasaan korupsi. Hal itu saja cukup memadai bisa mengatasi masalah korupsi, apalagi itu disertai penyitaan uang haram oleh Tuhan.

Pada saat ini, pengadilan dan penyidikannya maupun proses menjalani vonis pemenjaraan bagi koruptor masih bisa digagalkan atau diringankan karena suap. Tak sama bila Kerajaan Tuhan yang sudah bekerja. Tak satu pun celah yang dibiarkan Tuhan dalam memberantas korupsi di negeri ini.

Pernyataanku ini dapat saja dianggap sebagai publikasi. Tapi apa pun yang kunyatakan adalah suatu pernyataan awal untuk meyakinkan apa-apa yang dijaminkan oleh Kerajaan Eden. Koruptor dan penyuap sama-sama dihukum potong jari tangan. Sanksi semacam itu tak ada yang bisa menghindarinya dengan suap lagi. Karena tak ada yang bisa lolos dari pengintaian malaikat. Tapi kemudian, Kerajaan Eden dan Surga Eden mewajibkan seluruh pejabat negara harus disucikan dan takkan ada lagi yang berani korupsi. Itulah yang akan diharapkan semua orang, karena mereka semua itu telah terjamin kesuciannya.

Komunitas Eden mungkin diharapkan mengisi jabatan pemerintah, karena tentu rakyat itu akan tenteram bila diurusi oleh mereka. Tapi, alangkah hal itu tak mungkin terjadi karena mereka itu semua sudah berjanji hanya siap sebagai kawula Kerajaan Eden. Manalah mungkin mereka itu berposisi di wilayah politik dan pemerintah, padahal mereka itu semua adalah Rasul Tuhan yang tak boleh berambisi apa pun.

Oleh karenanya, mereka itu akan selalu teraniaya perasaannya bila harus berkata tak jujur demi partai atau jabatannya. Dan itu amat tak mungkin dilakukannya, karena Azab Tuhan sungguh ditakuti mereka. Begitupun mereka itu selalu harus berani menegur kesalahan dan senantiasa harus berani membongkar kejahatan seketika hal itu ditemui, dan mereka itu tak boleh ceroboh sedikit pun.

Kejahatan itu kini berlapis-lapis dan keji. Bayangkanlah bila harus mengedepankan orang-orang suci yang tak diperkenankan melakukan kesalahan sekecil apa pun lagi. Dan mereka harus berhadapan dengan orang-orang yang penuh tipu muslihat, dan berani melakukan perbuatan keji, dan melakukan penjebakan-penjebakan dan pemalsuan.

Sesuci-sucinya orang-orang yang sudah disucikan, takkan dapat menjadikan apa pun untuk membuatnya bertahan, karena mereka akan kewalahan, apalagi menggulung kejahatan yang berkaliber. Bisa-bisa mereka bernasib tragis karena tak sanggup bertahan dalam sumpahnya. Alangkah sayangnya. Oleh karena itu, terpulang kepada kamilah yang melakukan hal itu, dengan teknis yang lebih pakem.
 
Sungguh mereka itu tak cocok menduduki jabatan publik, karena mereka itu terlarang memberi dukungan kepada siapa pun. Mereka senantiasa harus selalu dalam posisi netral terhadap segala hal. Eden itu bebas dari batasan agama-agama dan negara, karena Eden itu adalah milik semua orang dan seluruh negara-negara. Tak ada perbedaan atas semuanya. Oleh karena takkan diberikan sebuah dukungan terhadap lembaga apa pun kecuali kesuciannya. Maka siapa-siapa yang telah bersumpah untuk disucikan, dialah yang terjaga dalam jabatannya. Dan siapa-siapa yang tak bersedia suci, niscaya menjadi gagal.

Kegagalan atas orang-orang yang tak bersedia disucikan itu adalah sebuah keniscayaan. Keberanian dan kecerdasan orang-orang yang berani bersuci beranjak dengan sendirinya, seiring dengan berkah dan rahmat Pertolongan Tuhan baginya. Jadi, manalah pilihan itu bisa mendua? Karena salah satunya niscaya kalah dan gagal.

Seandainya Anda ingin jujur dan suci, cukuplah Anda meniatkannya dalam-dalam dan kerjakan segala pekerjaan Anda semua dengan niat luhur tadi. Niscaya Anda akan bertemu denganku. Setidaknya ucapan-ucapanku menyelip di antara ucapan-ucapan Anda sendiri. Aku ini tak mungkin dapat Anda dengarkan berbicara di dekat Anda. Tapi kalau aku angkat bicara, niscaya melalui mulut Anda sendiri. Kalau Anda berucap sesuatu yang tak terpikirkan oleh Anda sendiri dan ucapan itu lancar dan baik dan dapat menuntaskan masalah atau pertanyaan, itulah ucapanku yang memberitahukan petunjuk.

Nah, siapa-siapa yang ingin tampil mendua dengan Jibril, bersucilah. Aku pasti menolongmu menjawab kesulitan-kesulitanmu dan Berkah Tuhan pun mengalir bersama Petunjuk-petunjuk-Nya yang kusampaikan. Kharisma kebajikan dan kebenaran dapat tampil melalui mulut siapa saja.

Pada setiap orang yang sedang teraniaya dan sedang kehabisan akal mengatasi keadaannya, dan kepada mereka yang terjebak dalam penindasan yang tak berujung, dan orang-orang yang memperjuangkan kebenaran tapi gagal karena tak bisa menahan kecurangan yang lebih lihai, panggillah namaku dengan nama Eden, dan berdoalah kepada Allah, dan aku akan muncul melalui akal cerdas yang tiba-tiba menghinggapi Anda. Dan aku akan berbicara melalui mulutmu sendiri, membelamu dengan cara yang tepat dan manjur.

Jadilah orang-orang yang benar. Maka bila kau tertindas dan teraniaya, aku diwajibkan Tuhan untuk membantu Anda. Untuk bantuan semacam itu, berlaku bagi semua orang yang benar tak terkecuali siapa pun Anda, dan apa pun agamanya, dan di manapun Anda berada, karena aku berada di mana-mana, mengolah segalanya menjadi baik dan benar.

Untuk bantuan semacam itu, panggillah namaku Eden. Melalui cara ini, kami mengatasnamakan Kerajaan Eden agar semua orang di dunia ini bisa merasakan kemakbulan doa atas nama Eden yang diberkati, demi membuktikan Kerajaan Eden itu benar adalah Kerajaan-Nya. Siapakah yang sanggup menghadirkan berkah melalui suatu nama tertentu, kalau itu bukannya atas Kehendak Tuhan? Kata Eden diberkati Tuhan karena Tuhan ingin menampilkan Kerajaan Eden dan Surga Eden di dunia ini yang akan dihikmati oleh seluruh umat manusia di dunia.  

Oke, aku sudah menjawabkan apa-apa yang mungkin ingin dipertanyakan. Betapa cara kerjaku mewujudkan Kerajaan Tuhan itu sesungguhnya ingin dipertanyakan konsepnya. Begitulah aku dan Lia Eden itu terpisah tugasnya. Dia penuh keterbatasan, namun kembarannya sangat leluasa bertindak. Kiranya dia dipergunakan Tuhan sekedar untuk dipakai figurnya.

Sungguh jangan mempertanyakan ilmu pengetahuan, apalagi tentang teknologi kepadanya. Dia buta sama sekali tentang hal itu. Karena akulah yang berprakarsa melalui teknologi yang canggih. Wajahku serupa dengan dia, namun aku adalah sumber ilmu dan rahmat dari Tuhan. Itulah yang membedakan kami berdua.

Dia tak leluasa bergerak, bahkan tertatih-tatih dan tak leluasa menyatakan keinginannya sendiri. Sungguh dia terbatas menyatakan apa pun atas nama dirinya. Karena yang harus dinyatakannya hanyalah Ketentuan-ketentuan Tuhan dan Kehendak Tuhan saja. Seakan-akan mulutnya terkunci untuk hal yang lain. Jadilah dia simbol Surga dan Kerajaan Tuhan yang hidup di tengah masyarakat luas di dunia ini. Aku dan dia serupa, tapi hakikat Surgalah yang mengharuskan dia tunduk kepada Peraturan Tuhan, sekalipun Peraturan Tuhan kepadanya itu amat sulit dilaksanakannya dan penuh pengorbanan.

Surga amat dinantikan umat manusia, tapi hanya orang yang suci tanpa noda yang dapat masuk ke Surga Eden. Untuk itulah Ratu Surga tak diperkenankan tampil di tengah masyarakat. Kerajaan Eden dan Surga Eden diurusi langsung oleh Tuhan dan para malaikat-Nya.

Semua doa yang diatasnamakan dengan Kerajaan Eden mudah dikabulkan Tuhan. Dan kata Eden mengandung energi yang besar dan diberkati. Hal itu sengaja kuungkapkan agar dibuktikan kemanfaatan dan kesakralannya.

Berdoalah dan sebutkan di dalamnya Atas Nama Kerajaan Surga Eden, dan Tuhan menjamin kemakbulan doamu. Kusarankan silakan mencoba dan membuktikannya, namun ikhlaslah mengatasnamakan Kerajaan Eden dalam doamu. Janganlah hanya karena keingintahuan saja Anda coba-coba mengatasnamakan Kerajaan Eden dalam doa Anda, padahal Anda tak dalam kesulitan berat dan tak disertai niat yang tulus.

Ketentuan Tuhan jangan dipermainkan, apalagi Tuhan itu Maha Tahu dan Maha Melihat seandainya Anda sulit menerima pernyataanku ini, sehingga Anda mau saja melecehkan Eden. Percayalah, kami ini mengerti perasaan setiap orang.

Kalau Anda marah terhadap pernyataanku ini, jangan takabur dan meludah. Kalau seperti itu, Anda sendiri akan merugi karena akan dipecundangi oleh kami. Percayalah bahwa kami niscaya sangat tahu apa yang ada dalam hati dan pikiran Anda. Dan kami sangat berkompeten menguji dan mensucikan Anda.

Sekarang, cobalah Anda bersedia menerima Kerajaan Tuhan ini sepenuh hati Anda. Dan cobalah Anda merenungkan kembali segala yang Anda alami sebelum dan sesudah Anda mendekatkan hati Anda untuk kami dan Kerajaan-Nya. Niscaya itu akan berbeda. Setidaknya kelapangan hati semakin terbuka, rasa syukur lebih sering dirasakan, dan hambatan-hambatan hidup lebih mudah teruraikan. Begitulah sesedikit-dikitnya rahmat yang tercurah bagi yang mengimani Kerajaan-Nya, Eden. 

Pada kesempatan penampakanku di tengah masyarakatlah segala urusan Kerajaan dan Surga Eden dapat kulaksanakan secara langsung, dan Ketentuan-ketentuan Tuhan kuberlakukan. Amanat Tuhan selalu dilangsungkan dengan penuh damai dan cinta kasih. Takkan ada pemaksaan kekuatan dari Eden, karena mereka hanyalah segelintir orang-orang suci yang mempunyai perjanjian sumpah dengan Tuhan untuk menjadi pelayan umat yang penuh kasih. Segala perjanjian dengan Komunitas Eden niscaya dipenuhi Tuhan. Namun persoalan-persoalan yang mereka hadapi justru terpulang kepada kamilah penyelesaiannya.

Tak terangkat beban mereka menghadapi persoalan yang berat, kalau diperhitungkan bahwa merekalah yang harus menempuh cara yang keras demi menundukkan pelaku-pelaku kekerasan dan intimidasi. Padahal masalah semacam itu kini padat sekali dan tak terselesaikan. Eden hanya bisa dinilai oleh kesucian dan ketulusan. Takkan pernah ada kebenaran bila tindak kekerasan itu dilawan dengan kebencian dan amarah. Komunitas Eden tak mungkin mentolerir segala tindakan yang di luar hukum bila menghadapi masalah kekerasan yang terpaksa harus dihadapinya. Mereka takkan memberikan reaksi apa pun karena mereka sudah bersumpah tak membenci apa lagi bertindak keras. Oleh karena itu, pemaksaan dari Tuhan sendirilah yang berlaku atas mereka yang berlawanan dengan Eden.

Akankah Komunitas Eden itu perlu dienyahkan dan terlarang melakukan aktivitasnya setelah mereka menyebarkan Fatwa Tuhan Penghapusan Semua Agama? Semenjak hal itu telah dikeluarkan Eden ke masyarakat luas, tak ada lagi pelindung bagi mereka di manapun, karena seluruh umat beragama di dunia ini jelas sekali akan membenci mereka, dan tentunya ingin menuntutnya dan mengenyahkan mereka, tak terkecuali!
Oleh karena kedahsyatan ancaman yang akan menimpa mereka setiap saat itulah yang menyebabkan Tuhan pun memberi perlindungan sekuat-kuatnya atas diri mereka. Mereka takkan dapat bersembunyi ke manapun, atau lari ke suatu tempat yang tak bisa dikenali, karena mereka tak diperkenankan Tuhan mengelabukan apa pun, apalagi identitas diri dan tujuan perjuangan. Keberanian apa pun yang mereka miliki itu tetap tak sanggup membuat mereka mampu bertahan dari masalah-masalah yang datang menyerbu mereka. Daripadanya itu, maka Tuhan pun segera memberlakukan Mukjizat-mukjizat-Nya demi mengubah keadaan.

Mereka telah sampai kepada suatu hal yang tak terhingga bahayanya, yang tak diperkirakan olehnya dan oleh siapa pun. Tuhan berprakarsa melindungi mereka melalui Karunia-Nya yang terbaik, dan Murka-Nya yang terburuk, dan kedahsyatan Mukjizat-Nya. Penegakan Kerajaan Tuhan di dunia pun berlaku, selayak Kuasa Tuhan yang harus diberlakukan untuk mendukung Peringatan-peringatan Tuhan yang disampaikan Eden, yang telah membuat kehebohan besar dan penuh bahaya.

Pernyataan Penghapusan Semua Agama-agama itu menghentakkan semua orang, namun sesungguhnya itu pun memenuhi harapan banyak orang. Kebebasan beragama pada saat ini sedang dalam kondisi kritis dan mengungkung hati nurani. Kebencian agama pun meluas sebagaimana itu pun mengakibatkan skeptisme terhadap golongan orang-orang yang beragama. Namun tiada yang memiliki keberanian untuk terang-terangan mengumpat agama yang diayomi Tuhan, sebaik permusuhan agama itu dinilai sangat meresahkan, tapi tak mungkin dihentikan. Karena kebencian terhadap terorisme itu terhalang penindakannya oleh pengagungan terhadap agama yang memiliki nilai kesakralan dan kekeramatan yang kukuh dari Tuhan.

Golongan penganut atheis yang mengumpat Tuhan dan golongan sekuler yang mengangkat dirinya menjadi patriot kebenaran dan yang tangguh mengusung kepedulian massa, terombang-ambing oleh debat kusir yang berkepanjangan dan tak berujung dengan kaum agamawan, sehingga pada akhirnya manusia tak lagi takut kepada Tuhan. Karena raut wajah agama itu kini memang sudah sedemikian buruk, kebenarannya semakin muskil dan menjauhi logika. Kesakralan agama sudah berubah. Atau sebaliknya di lain sisi, ada golongan yang amat fanatik sehingga menjadilah agama itu menakutkan. Kebenaran sejati sudah lama tak dikenali. Dan orang-orang atheis pun berkata, “Tuhan itu memang nonsens!” 

Kalau hal itu tak ditangani Tuhan secara terbuka, sangat dimungkinkan skeptisme terhadap agama-agama tak lagi dapat dibenahi, dan kelancungannya telah menjadikan umat manusia saling bermusuhan dan celaka. Demikian itu telah menjadi pendapat umum yang juga akibatnya telah menghilangkan rahmatan lil alamin, Rahmat Tuhan Semesta Alam. Karena manalah Tuhan akan memberikan Rahmat-Nya bila umat manusia mengingkari-Nya atau tak menghargai-Nya?

Sungguh dunia keberagamaan itu kini penuh dengan dilema dan tak teruraikan. Alangkah keadaan itu telah menjadi dilema buah simalakama. Dan kami pun membuka cakrawala Keilahian terkini sampai Ketentuan Tuhan atas Penghapusan Semua Agama pun dimaklumatkan oleh-Nya.

Akankah semua umat berang terhadap kami, kalau sekiranya semua umat Tuhan itu sesungguhnya sangat mengharapkan perdamaian, tapi tak tahu bagaimana caranya mengatasi segala kemelut keagamaan yang terjadi pada saat ini? Kuhadapkan kepada Anda semua sebuah pertanyaan, “Mungkinkah Tuhan menarik kembali Pernyataan-Nya tentang kiamat, Neraka dan Surga serta Hari Penghakiman?”

Semua agama membenarkan hal itu. Bilamana kami telah datang dan sedang menghadapkan kepada Anda semua penjelasan tentang hakikat ajaran agama-agama itu dengan mengedepankan secara rinci semua tanda-tandanya, melalui segala keadaan yang sedang terjadi, dan kemudian kami sesuaikan dengan ayat-ayat dari Kitab-kitab Suci-Nya, apakah yang salah dari penjelasan-penjelasan kami ini? Kalau itu semua harus bisa dibuktikan, mengapa tak mengamini saja bukti-bukti yang sedang kami sodorkan ini?
Apa yang menyebabkan Hari Kiamat dan Neraka? Bagaimana terjadinya ketika Tuhan menurunkan Surga dan bagaimana keadaannya? Siapa yang menghakimi di Hari Penghakiman Tuhan? Dan bagaimana keadaan Pengadilan dan Penghakiman-Nya? Siapa yang bisa menjawabnya? Padahal itu semua harus nyata terlaksana demi keimanan semua orang terhadap segala yang tertulis, sebagaimana yang diwahyukan Tuhan dalam Kitab-kitab Suci-Nya pada semua agama-agama.

Pada kenyataannya Lia Eden menjadi sosok sentral di Hari Penghakiman, karena dia yang terlihat nyata dan hidup di kalangan sesamanya. Dia dapat diraih dan ditanyai. Namun akulah penjelmaannya yang melaksanakan segala hal yang menyangkut segala penyelamatan dari Tuhan dan Penghakiman-Nya. Oleh karena itu, aku pun dapat diraih dan ditanyai. Itu dapat terjadi setiap saat, bila aku sedang menjajaki sesuatu di kalangan manusia. Sehingga melalui penampakan itu perananku sebagai malaikat pembawa Rahmat Tuhan dan Hakim-Nya akan terasa nyata dan langsung, tanpa tedeng aling-aling. Keperkasaan Tuhan pun tampil seutuhnya. 

Lia Eden hanya bisa menyampaikan Petunjuk-petunjuk Tuhan yang harus dia sampaikan. Tapi secara mendasar, bukan dia yang berperan sebagai pelaku, melainkan Tuhan sendiri dan akulah sebagai pelaksana Titah-Nya. Oleh karena itu, pisahkanlah dia dari segala kebakuan Firman-firman Tuhan. Tak mungkin dia bisa membakukan Firman-firman Tuhan menjadi kenyataan bila dia tak mendapat petunjuk. Dia hanya sebagai alat perantara saja. Oleh karena itu, ketika Kerajaan dan Surga Tuhan itu sudah harus dibakukan, dia dipingit Tuhan sepenuhnya.

Tiadalah dia tak bertanggung jawab atas apa-apa yang ditetapkan Tuhan, karena bobot dari apa-apa yang dimaklumatkan Tuhan tak tertahankan olehnya. Terlalu berat dan semua itu memang tak berasal darinya, melainkan dia hanya bertanggung jawab menjaga kesucian Kerajaan dan Surga Eden. Dia pulalah yang terlihat sosoknya sebagai orang yang melaksanakan pensucian di Eden, yang menyeleksi dan yang menghadapi prosesi pengakuan dosa. Dan dialah yang tetap akan menuliskan Wahyu-wahyu Tuhan dan Risalah-risalah Ruhul Kudus. Justru hanya itulah tugasnya hingga usai kewenangannya itu.

Ketika umat manusia gagal diperingatkan Tuhan, kondisi yang menjurus kiamat tak terhindarkan lagi. Menjadilah Firman-firman Tuhan muncul di tengah umat manusia melalui saluran teknologi informasi secara seluler. Kami menghadirkan Firman-firman Tuhan melalui satelit Tuhan, mengudara dalam semua bahasa. Manusia sudah mampu menguasai teknologi komunikasi seluler, manalah Tuhan tak sanggup menginformasikan Firman-firman-Nya dengan cara yang sama? Dan semua itu terjadi tanpa bisa dielakkan, karena teknologi sengaja kami kendalikan. Dan itulah kejadian Lauhil Mahfuzh.

Demikian setelah Jalur Seluler Informasi Tuhan secara langsung itu terlaksana, Lia Eden pun usai menghadirkan Wahyu-wahyu Tuhan melalui tulisan tangannya. Walau segala Pernyataan Resmi Tuhan yang harus dibakukan tak luput dari tanggung jawabnya, namun secara teknis, Malaikat Jibril-lah yang mengurusi. Dia hanya menjadikan apa-apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya. Dan cukuplah dia hanya bertugas menjaga kesucian Eden dan Komunitas Eden yang dimuliakan, bak mempertahankan tempat domisili Surga Eden dan Kerajaan Tuhan di dunia ini.

Tapi itu sungguh tidak ringan. Karena kalau keniscayaan Surga Eden itu sudah diyakini, siapakah orang di dunia ini yang takkan berusaha bisa diterima di Surga? Demikian dia akan menjadi sangat sibuk melayani umat. 

Demi konsentrasinya atas yang tersebut di atas, dia pun dibatasi Tuhan hadir di luar istana kerajaan dan menemui publik. Segala yang tertuang sebagai peraturan Kerajaan dan Surga Eden adalah amat sakral dan keramat. Oleh karena itu, dirinya pun dikaruniai Tuhan kesakralan dan kekeramatan yang amat bertulah. Itu dilakukan Tuhan demi menjadikan keluhuran dan keagungan Lia Eden menjadi simbol Kerajaan dan Surga Tuhan di dunia ini. Katakanlah dia itu sebagai simbol yang hidup. 
 
Oleh karena kesakralan dan kekeramatan Kerajaan dan Surga Eden yang tak terbatas itulah yang menyirat dalam diri Lia Eden, sehingga dia harus dijaga setiap waktu agar tak terjadi kekualatan dan kedurhakaan atas nama Kerajaan dan Surga Tuhan ini. Begitulah dia menjadi lebih baik bila dia dipingit, demi menjaga umat tak sengaja atau dengan sengaja membuat masalah terhadapnya. Dan itu dapat menyebabkan kekualatan yang tragis. Songsonglah Kerajaan dan Surga Eden. Jangan didurhakai dan menjadi kekualatan lagi.

Sungguh sosok Lia Eden bukanlah sosok Tuhan, melainkan Ruh Tuhan untuk Kerajaan dan Surga-Nya itulah yang diusung Lia Eden di dalam dirinya. Tapi dia adalah mahluk ciptaan Tuhan yang harus tunduk pada semua Peraturan dan Undang-undang Hukum Tuhan Sang Maha Pencipta.

Kesucian dan kesakralan Surga dan Kerajaan Tuhan yang diembannya membuatnya harus selalu berhati-hati berpikir dan melangkah serta menentukan sikap. Setiap ketetapannya bukanlah ketetapannya sendiri, melainkan petunjuk yang diperolehnya dariku atau dari Tuhan secara langsung.

Demi kediriannya yang rapuh dan yang telah berusia lanjut, Tuhan memeliharanya dengan mengucilkan dia dari keramaian tuntutan melayani publik yang akan menyerbunya demi memperoleh pemberkatan langsung dari Tuhan. Pengkultusan atas dirinya dapat saja terjadi. Itu sebabnya dia lemah dan tak sanggup leluasa bergerak. Gerakannya berat dan terkadang harus dipapah.

Tuhan sengaja memberlakukan eksistensi Kerajaan Surga-Nya justru pada saat Lia Eden sudah tua dan terlihat sakit-sakitan, supaya dia dan masyarakat dunia sadar atas kerentanan tubuh Utusan-Nya, sehingga segenap harapan itu hanya tertuju kepada Tuhan semata. Sementara Lia Eden harus jujur menyatakan ketidakberdayaannya dan harus tekun selalu menjaga kesucian dirinya dan Eden. Sebab hanya dengan itulah yang membuat dia dan Eden dapat bertahan. Demikian Tuhan menjaga keselamatan Utusan-Nya, Kerajaan-Nya dan Surga-Nya. Tak ada yang dapat bertahan kecuali oleh kesucian yang selalu terjaga.

Di zaman yang tak mudah menghasilkan kemakbulan doa pada saat ini, kami menawarkan sesuatu cara yang lebih langsung dan tidak ribet serta ditanggung terkabul, yaitu cobalah berdoa kepada Tuhan atas nama Kerajaan Eden tanpa ritual apa pun, kecuali hikmat dan tulus. Sementara, cara yang lain terpaksa dibuat tak makbul. Dengan berat hati, hal ini harus kusampaikan demi menjadikan sorotan.

Seandainya Anda marah oleh pernyataanku ini dan menganggap mana mungkin Tuhan akan bersikap demikian, maka biarlah isi doa Anda sendiri yang menentukan hal itu, sehingga Anda dapat menilai sendiri cara mana yang mendapat Pemberkatan Tuhan. Semoga doa Anda dikabulkan Tuhan karena tulus mengimani Kerajaan-Nya.

Tapi inilah Cara Tuhan untuk memberdaulatkan Kerajaan-Nya dan Surga-Nya. Bila tak seperti itu cara Tuhan menegakkan Kerajaan dan Surga-Nya, akan selamanya pernyataan kami itu terkatung-katung tak dipercaya. Bilamana Lia Eden itu berdusta dan aku ini bukanlah Malaikat Jibril sejati, taklah kami ini memberanikan diri menjaminkan ‘Eden’ sebagai kata sakral yang memberkati. Dan taklah kami ini sanggup memberikan uraian semacam ini.

Ini bukanlah kejumawaan, tapi hanya sebuah cara pemfokusan untuk diyakini. Siapa yang dapat memaksa Tuhan, kalau Keikhlasan-Nya itu kini diiringkan dengan Keinginan-Nya yang mendesak atas Kerajaan dan Surga-Nya yang harus diyakini? Itu hanyalah masalah keinginan yang mendesak, bukanlah semata-mata penekanan atau pilihan yang tak bisa diganggu-gugat. Karena bila Anda menggugat Tuhan, “Mengapa Dia mengistimewakan Kerajaan Eden?”

Maka Dia akan menjawab, “Apakah engkau perlu Surga dan pendamai?”
Dan kalau ada yang mengatakan, “Mengapa Tuhan memaksa dengan menekan seperti itu?”
Dan Tuhan pun tersenyum dan mengatakan, “Bukankah kamu semua yang menekan-Ku untuk melakukan itu?”

Dosa-dosa manusialah yang telah merusuhi langit, yang membuat Tuhan harus menurunkan Surga dan Kerajaan-Nya. Dia takkan mengistimewakan Kerajaan Eden dan Surga Eden di atas yang lainnya, karena Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil. Tapi Keadilan-Nya yang tak mudah tersaksikan secara langsung dan baru dapat dirasakan bila Kerajaan dan Surga-Nya mau diakui dan eksis. Karena baru dari berita-berita yang dikeluarkan Kerajaan Eden-lah keadilan Fatwa-fatwa Tuhan itu dapat dirasakan secara langsung.
Segala Penilaian Tuhan akan dimaklumatkan secara rinci. Maukah melihat itu sebagai suatu yang amat berharga? Karena kapankah umat manusia itu sanggup merasakan Penilaian Tuhan secara langsung atas segala hal yang dipedulikan-Nya?

Sebaik Kerajaan Tuhan itu mau diakui dan dihikmati, Firman-firman Tuhan berhamburan turun demi perbaikan keadaan. Demikian Kehendak Baik Tuhan untuk memperbaiki segala keadaan mampu memberdayakan segala hal menjadi perbaikan keadaan. Dan demi Kemahaadilan-Nya, Tuhan mempersaksikan Keadilan-Nya melalui Firman-firman-Nya yang sedang membumi lagi, yang difatwakan melalui Kerajaan Eden.

Siapa yang bisa adil seadil Tuhan? Dan siapa yang bisa berprakarsa mendatangkan Keadilan Tuhan secara nyata? Kekuasaan sebesar apa pun di dunia ini, niscaya takkan sanggup berbuat adil seadil-adilnya, dan niscaya tak mungkin bisa mendatangkan Firman-firman Tuhan, dan mewujudkan contoh Kemahaadilan Tuhan.

Pada saat ini, bagi Tuhan yang terpenting adalah Kerajaan-Nya dan Surga-Nya diakui. Semua hal akan terkondisikan menuju pengakuan atas Kerajaan dan Surga Eden. Dan itu demi perbaikan keadaan.

Tiadalah Komunitas Eden itu adalah orang-orang yang dapat memberkati dan merupakan manusia-manusia super, melainkan hanyalah orang-orang lugu yang suci dan sangat patuh kepada Tuhan. Mereka hanya sanggup mempertahankan kesuciannya, agar tetap makbul doa mereka dan dapat bertahan di Eden. Tak ada keinginan yang lain.
Tuhan memberkati mereka karena kesucian mereka. Dalam keadaan apa pun, mereka itu pasti selamat, karena mereka sudah terlatih melaksanakan Amanat-amanat Tuhan. Ketulusannya suci. Perjuangan memperoleh kesuciannya cukup lama ditempuh, kurang lebih 10 tahun. Tak banyak yang dapat berhasil bertahan. Oleh karena itu, mereka dikasihi Tuhan.

Setiap keberhasilan pensucian diri menghadirkan Mukjizat-Nya. Karena semua hal yang diharapkan, diperkenankan Tuhan dapat dengan sendirinya terjalin menjadi tingkap keberhasilan dan keselamatan. Tak semua orang tahu kalau Tuhan bekerja dengan Cara-Nya sendiri.

Bagi Tuhan, yang terpenting adalah umat manusia itu mau disucikan. Kerajaan Eden hanya memberdayakan orang-orang yang telah suci untuk menyampaikan Amanat-amanat Tuhan ke masyarakat dan dunia. Tapi Tuhan mengelola dunia melalui caranya sendiri, sehingga umat manusia menjadi jujur dan menghikmati Kerajaan dan Surga-Nya.

Di dalam keberhasilan pensucian, tertera kemujuran dan kelapangan. Dan di dalam kelonggaran yang diberikan Tuhan tersebut, terdapat keberhasilan pembenahan sistem. Sementara itu, keadilan pun tercapai. Kesetaraan dalam hal apa pun mewujudkan demokrasi yang terpimpin secara luhur, karena Keadilan Tuhan itu berdasarkan demokrasi atas nama kebenaran, selayak semua kebenaran itu berbeda-beda dan bertingkap-tingkap melalui pilihan-pilihan kebenaran dan kesejatiannya. Faktor kesalahan semakin tersisih, sekalipun ada peluang kemenangan pada kejahatan oleh karena kelihaian yang piawai. Tapi jati dirinya semakin hari semakin melemah dan tak sanggup berpengaruh kuat lagi, karena semua orang lebih memilih kejujuran demi menghindari arus bah Penghakiman Tuhan.

Sebaliknya eksistensi kejahatan yang harus dimusnahkan oleh Kerajaan Tuhan boleh jadi tak mau disingkirkan. Sehingga mereka mengubah nama dan kriteria serta semboyan. Akan tetapi Tuhan selalu mensucikan dengan tuntas. Adalah lebih baik bertaubat secara murni dan mengubah pandangan hidup dan memperbaiki sifat dan perbuatan. Sungguh premanisme itu akan digulung Tuhan. Sebanyak-banyaknya kejahatan dapat terlihat pada lingkaran setan premanisme yang membelantara. Ancaman dan sanksi hukum dan kekuasaan sekalipun tak berhasil membendungnya. Bahkan masyarakat dan oknum perbankan tak terasa telah terikut menggunakan jasa debt collector, maka menjadilah pasukan pemaksa atau ormas yang ditakuti.

Maraknya premanisme tetap harus diakui sebagai kegagalan. Mekanisme pembaharuan tak bisa disodorkan setengah hati. Premanisme tak mungkin lagi dibiarkan. Pemberantasan yang dilakukan Tuhan atas premanisme merupakan suatu jenis kutukan yang akan melanda kaum preman. Kejahatan mereka dikebiri dengan mendatangkan penyakit kurap yang ganas, karena perilaku mereka yang mengganas dan meresahkan. Perubahan yang signifikan dapat dirasakan bila pasal Undang-undang Hukum Tuhan perihal pemotongan jari tangan terhadap koruptor dan penyuap, pencuri dan preman-preman pemalak, terangkat dan diterima untuk menjadi hukum positif. Maka perubahan itu baru bisa dinyatakan eksistensinya.

Pengakuan atas kejahatan hanya terdapat di belantara premanisme. Siapa pun bisa berpendapat, tapi kebenaran versus kejahatan tak dapat dinilai secara verbal. Eksistensi kejahatan bisa saja lebih tersoroti dan dapat dipaksakan bila dimungkinkan. Akan tetapi, kebenaran selalu ada yang mengharapkan dan yang akan mengupayakan kemenangannya atau pembelaan atasnya. Sebab itu selalu ada kesempatan rekonstruksi kebenaran, agar dapat mengalahkan yang jahat. Dan kebenaran pun bertingkat-tingkat sebagaimana kejahatan. Dan itulah kehidupan alam manusia.
Di sinilah diperlukan kekuatan doa untuk mendapatkan kekuatan kebenaran dari Tuhan. Oleh karena itu, terpulang kepada Tuhan penunjukan kebenaran yang lebih baik atau sempurna. Karena siapa pun yang memenangkan pertarungan kebajikan dan kebenarannya, bisa saja sejati, bisa juga tidak. Ambisi-ambisi yang meliputi bisa menodai kebenaran sejati.

Kalau di dunia ini jarang didapati kesejatian kebenaran, mengapa tidak mencoba membiasakan diri berlindung kepada Tuhan, agar Dia menjaga Anda tetap berada di dalam kemurnian niat dan tekad? Demikian Tuhan akan menggiring Anda sampai kepada kebenaran yang sempurna dan sejati.

Sebanyak-banyaknya perkataan kebenaran yang didalihkan, atau sebanyak-banyaknya manipulasi kebenaran atas nama partai atau kewenangan maupun golongan, ataupun atas nama kecendekiawanan, masih banyak lagi kecurangan yang diatasnamakan kebenaran. Dan beberapa atas nama hukum yang dikotori. Karenanya, kebenaran sejati sulit berkutik.

Daripadanya, maka pada zaman ini, terpaksa Tuhan membersihkan kebenaran-kebenaran itu dahulu sebelum terbukti sebagai Kebenaran-Nya, dan kepada para ulama dan pemuka-pemuka agama serta aparat hukumlah Tuhan memprioritaskannya. Dari pembersihan golongan tersebut itulah Tuhan pada akhirnya dapat mengemukakan kebenaran sejati. Karena kebenaran sejati yang dinodai mereka itu mengakibatkan Kebenaran Tuhan ikut menjadi nista. Mereka dihargai oleh karena kedudukan mereka yang mengatasnamakan Hukum-hukum Tuhan dan hukum negara. Tapi mereka kemudian mempermainkannya. Sesungguhnya orang-orang yang patuh kepada hukum dan undang-undang itu adalah lebih baik daripada mereka, karena mereka itulah sendi hukum. Perbuatan yang menodai hukum oleh orang-orang yang seharusnya menegakkan hukum adalah seperti lintah yang menghisap darah. Sungguh mereka itu akan dikutuk Tuhan menjadi lintah sebagaimana perbuatan mereka itu menjijikkan seperti lintah.

Patuhilah hukum dan hidup pun menjadi tentram. Maka Demokrasi Tuhan adalah demokrasi terpimpin secara luhur. Semua orang itu sama di Mata Tuhan. Kesucianlah yang membedakannya. Siapa-siapa yang suci, dialah yang disayangi Tuhan dan diberkati. Dunia teologi melihat Tuhan pada saat ini menjadi sangat keras bertindak, tanpa kompromi, suka menyiksa dan menghamburkan murka dan kutukan. Tapi dosa-dosa manusia terlalu berat dan berlapis-lapis. Siapa yang sanggup memulihkan habitat manusia? Seperti itulah Alasan Tuhan bertindak keras tanpa kompromi.

Lalu ke mana mengarahkan perbaikan yang diandalkan Tuhan, kalau semua sisi kehidupan itu terlihat dihancurkan-Nya? Justru Laknat Tuhan itu memang harus terlihat seperti itu. Kalau tidak, umat manusia sulit disadarkan. Padahal untuk mencapai kehidupan gemah ripah loh jinawi dan yang luhur serta terhormat itu, harus melalui terlebih dahulu masa kehancuran agar semua kejahatan binasa. Kebinasaan kejahatan justru mempertinggal keluhuran sejati, karena manalah Tuhan sudi menghancurkan semuanya. Seperti memeras kelapa untuk diambil santannya.

Kengerian atas Tindakan Tuhan dan penyesalan dari orang-orang yang takut serta doa orang-orang kudus, menjadikan ada yang tersisa dari segala huru-hara pembinasaan. Kehidupan yang tersisa itu pun kehilangan pamor untuk berbuat sewenang-wenang lagi. Semua orang tertegun menyesali dosa-dosanya dan keadaan buruk yang baru saja berlalu. Pemberhalaan atas apa pun runtuh. Semua orang pun merasakan kesetaraan yang serupa, dan semuanya pun kemudian sadar, ingin taat dan patuh kepada Tuhan. Dan jalan kesucian itu pun menarik hati dan menjadi idaman semua orang. 
 
Dalam Demokrasi Tuhan, tak ada yang diistimewakan, selayak semua orang itu diperhitungkan sama oleh-Nya. Kekuasaan takkan menjadi lebih penting dari seorang rakyat biasa. Tak ada kedudukan penting yang mengharuskan dia diusung menghadap Tuhan. Dan bagi Tuhan, semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin banyak ujian yang harus dilampauinya dan semakin keras Hukuman-Nya. Karena dampak perbuatan salah orang-orang penting itu berakibat panjang dan kemudaratannya luas. Saatnya orang yang tak berkuasa akan merasa lebih tenang hidupnya. Beban atas segala pertanggungjawaban itu tidaklah mudah. Maka jangan menganggap menjadi pemimpin itu enak saja. Karena setiap kemudaratan atas kebijakannya akan dihakimi Tuhan, apalagi bila dia menyalahgunakan kewenangannya. 

Itu sebabnya dalam Kebijakan-Nya, Tuhan tak memberlakukan tata cara di Kerajaan Eden itu sebagaimana tata kerajaan pada lazimnya, karena Tuhan mengindahkan Kerajaan-Nya untuk dijadikan pusat penghikmatan seluruh umat manusia di dunia, dan sebagai tempat yang tersuci di dunia. Kesetaraan di Hadapan Tuhan itu adalah sebuah hakikat di Kerajaan-Nya.

Oleh karena itu, tak ada yang dapat memasuki Kerajaan Surga Tuhan kecuali yang sudah suci. Untuk itu, protokolernya memberlakukan keistimewaan hanya kepada orang-orang yang berdasarkan niat bersuci dan bersungguh-sungguh. Dan hal itu hanya melalui perantaraan penauladanan kesucian yang sudah mapan, yaitu orang-orang yang sudah terlebih dahulu yang berani mengukuhkan dirinya bersuci. Karena tiadalah orang yang tiba-tiba datang dan bersikeras mau disucikan dapat langsung diterima di Surga Eden. Harus ada pelepasan hak atas dirinya. Karena bila masih memiliki sedikit keegoan atas haknya dan kediriannya, jangan harap dapat lulus dari Ujian-ujian-Nya. Tanpa itu, jangan harapkan dapat dijawab Tuhan. Anda boleh berkilah atau Anda menunggu sampai kapanpun, namun tetap saja Persyaratan Tuhan itu hanya satu, yaitu tuluslah dan sucilah! 

Tuhan tak bisa diraih dan tak terlihat. Bila ingin menemui-Nya, takkan ada arca sebagai sosok yang mewakili-Nya. Tak juga yang akan tampil itu Lia Eden yang akan mewakili Tuhan. Maka jangan menganggap Tuhan ada di suatu tempat. Dia meliputi seluruh bumi dan alam semesta. Berdoa di manapun, niscaya dipedulikan Tuhan. Akan tetapi, di Kerajaan Surga Eden-lah Firman-firman Tuhan itu sedang disalurkan turun, sehingga Tanggapan Tuhan atas segala doa di Kerajaan-Nya adalah lebih langsung dan termakbul demi penyempurnaan penyatuan seluruh agama.

Berdoa di wilayah Eden hanya dengan satu cara, cukuplah bersujud sebelum berdoa. Setelahnya, ucapkan apa pun doa Anda. Setelah selesai berdoa, Anda pun kembali bersujud kepada Tuhan dan selesai. Hanya itu ritual di Eden. Tak tersedia tempat dan prasarana ritual dengan cara yang lain.

Sungguh sangat mudah untuk menemui Tuhan. Cukup berniat sungguh-sungguh disapa Tuhan, sehingga Anda melakukan pensucian diri dan berani mengangkat doa atas nama Kerajaan Eden atau Surga Eden. Dan tak sekedarnya menyatakan diri ingin suci, tapi Anda harus berani tegar menghadapi ujian-ujian Pensucian-Nya untuk selama-lamanya. Karena Pensucian Tuhan atas setiap orang itu langgeng, seumur hidup. Setiap saat ada saja halangan yang dihadirkan-Nya untuk diujikan, dan setiap saat pula orang-orang yang disucikan itu harus siaga agar dapat melampaui Ujian-ujian-Nya dengan sukses.
Siapa pun Anda, dan beragama apa pun Anda, dan bahasa apa pun yang Anda ucapkan, niscaya Anda langsung dapat berbicara dengan Tuhan. Aku wajib menyampaikan ini demi menghindarkan tulah pengkultusan terhadap aku dan Lia Eden. Demikian Tuhan tak dimiliki oleh siapa pun.     

Keimanan terhadap Tuhan takkan lagi simpang siur dan bersaingan. Semuanya setara dan diayomi Tuhan. Takkan ada lagi perbedaan, apalagi penekanan dan intimidasi. Semua orang menganggap apa yang sudah terjadi sekarang ini adalah merupakan kenangan buruk yang harus dilenyapkan, karena telah membuat semua orang menderita.

Kerajaan Tuhan takkan dianggap kekuasaan otoriter yang penuh ancaman karena telah mempersaksikan Murka dan Kutukan-Nya. Karena bila telah diyakini, umat manusia pun berkelimpahan Rahmat dan Kasih Sayang Tuhan. Semua sistem diperbaiki. Yang melanggar dihukum secara pasti.

Tindakan dan Kebijakan Tuhan tak bisa dilawan atau dipaksakan. Semuanya berjalan hanya searah dan takkan mendua dan bukan timbal balik. Namun Tuhan adalah Yang Maha Bijaksana dan Maha Baik lagi Maha Pemurah dan Maha Penuh Pengertian.

Ketaatan absolutlah yang dikehendaki Tuhan berlaku di dalam Kerajaan-Nya. Seruan Tuhan adalah Seruan Tuhan, tak mungkin boleh dipungkiri dan tak ditaati. Segala Firman Tuhan wajib dipatuhi, karena itu adalah jalan yang terbaik dan penuh rahmat, takkan mungkin tersalah seberapa pun tingkat dilematisnya dan selalu sempurna, penuh manfaat. Setiap Ketentuan-Nya selalu merupakan kesempurnaan multidimensi dan tak bercacat. Jadi untuk apa mengulas hal yang lain yang tak berasal dari Tuhan?
Umat manusia merasa tak bisa bersentuhan dengan malaikat dan Tuhan Yang Maha Bijak, padahal kami ini sedekat urat leher dan nadi, sehingga tak ada jarak di antara kita. Tuhan sangat dekat dan mampu memberlakukan apa pun atas setiap orang, namun juga maha luas Pandangan-Nya dan tegas Hukuman-Nya. Segala yang terjadi hanya menuju kepada satu hal, yaitu mematuhi Perundang-undangan Hukum Tuhan semata. Hak otoritas hanya kepada Tuhan semata.

Lia Eden hanya sosok manusia yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan Petunjuk-petunjuk-Nya. Kelak dia sangat dibutuhkan. Banyak orang yang ingin menemuinya untuk memohon Pertolongan Tuhan, tapi dia hanya diizinkan menerima tamu yang diperkenankan Tuhan terhadapnya, tak terkecuali. Dia tak seperti negarawan yang wajib menerima tamu kerajaan. Dia pun tak dapat memutuskan sendiri setiap pertemuan yang dihadapkan kepadanya. Bahkan dia tak diperkenankan memenuhi undangan siapa pun. Tak ada pesta untuknya yang dapat dihadirinya. Dia terkonsentrasi sepenuhnya hanya untuk internal Eden. 

Anggap saja tak ada kemungkinan menemuinya kecuali sudah meniatkan diri untuk bersuci total. Akulah yang berkelana terus menghadiri pertemuan-pertemuan yang terpilih, yang mendapat perhatian khusus dari Tuhan, sebaik penampakanku dapat terjadi di berbagai tempat dan acara. Maka tak diperlukan lagi mengharapkan kehadiran Lia Eden di tengah publik.

Seberapapun permintaan dan harapan melalui dirinya terhadap Tuhan, niscaya tak terhitung. Dan niscaya sesedikit-dikitnya itu, tetap saja bak dia harus menyediakan dirinya siang dan malam untuk masyarakat yang membutuhkannya. Daripadanya, Tuhan memingitnya demi kesehatannya di usianya yang sudah lanjut. Dan yang terutama itu adalah demi Keotonoman Tuhan di Kerajaan-Nya sendiri.

Dan pula perlu kuberitahukan bahwa ketika Tuhan dengan sengaja memingitnya, Lia Eden tak pernah sanggup menemui tamunya yang tak diperkenankan Tuhan. Tuhan mempunyai cara untuk memberi kendala baginya, sehingga dia tak dapat berhasil menemui tamunya. Dia akan dibuat lemas dan tak bisa bangkit sampai disadarinya bahwa Tuhan melarangnya menemui tamu, barulah kondisinya dipulihkan kembali.
Kadangkala kesehatannya membaik dan dia serupa dengan orang yang sama sekali sehat wal afiat. Tapi sesungguhnya, tubuhnya itu sarat dengan tuah dan tulah sumpah-sumpahnya dan Sumpah-sumpah Tuhan. Sungguh dia sangat keramat dan bertuah. Tapi sedikit saja dia terlupa dan salah, tulah sumpahnya dan Sumpah Tuhan pun mengancam dirinya. Bebannya itu maha berat. Itu sebabnya tubuhnya pun terlihat sarat membawa beban. 

Kerentanan tubuhnya itu disebabkan karena Surga dan Kerajaan Eden yang diembannya mewajibkan dia suci dan bersedia bersumpah menjadi penebus dosa semua umat dari semua agama-agama. Oleh karena itu, dia terikat pada kesalahan keagamaan atas nama semua agama-agama.

Daripadanya, secara resmi kunyatakan bahwa sesungguhnya pengembanan Kerajaan dan Surga Tuhan itu membuatnya amat ringkih dan selalu kesakitan. Sekujur tubuhnya menderita kesakitan setiap saat dan sepanjang waktu. Keadaannya itu adalah perjanjiannya dengan Tuhan demi penebusannya. Maka harapkanlah sesegera mungkin umat seluruh agama itu mau berdamai dan menjadi satu menuju Surga dan Kerajaan-Nya, agar kesakitan pada tubuh Lia Eden disembuhkan Tuhan dan dia pun berumur panjang.

Sebagaimana Perjanjian Tuhan tersebut, Lia Eden semakin hari akan semakin renta dan uzur. Dia bahkan akan dipapah untuk bergerak. Namun sungguh dia adalah orang yang terbahagia di dunia ini. Dan kesakitannya itu diimbangkan Tuhan dengan kenikmatan terapi.

Terapi-terapi yang dialaminya dirasakan nyaman olehnya. Tak ada penyakitnya yang tak sengaja diadakan oleh Tuhan untuknya. Jadi, apalah penyakit-penyakitnya yang sengaja diperagakan Tuhan sebagai pembanding kedudukannya yang amat mulia itu. Begitulah keadaan fisik Lia Eden itu dapat diumpamakan sebagai sosok Keadilan Tuhan. 

Orang yang tiba-tiba bertakdir dititipi Surga dan Kerajaan oleh Tuhan, niscaya dianggap sebagai orang yang paling bahagia di dunia, sehat wal afiat dan takkan ada kendala apa pun atas dirinya, dan segala keinginannya tak ada yang terhalangi. Siapa pun yang menjadi Lia Eden tentu akan selalu dipertanyakan, apa sebabnya dia yang dipilih Tuhan.

Alangkah menjadi Lia Eden itu ternyata amat berat tanggung jawabnya, sehingga bebannya itu harus diperjuangkannya dengan segala pengorbanan dan kepatuhan. Jadi, bila Anda menyaksikan dia tertatih-tatih dan sakit-sakitan, itu bukanlah siksaan baginya, melainkan kondisi yang harus ditempuhnya.

Niscaya dia adalah orang terbahagia di dunia ini. Dia dicintai Tuhan dan para malaikat. Tapi dia harus mengalami segala Ujian-ujian Tuhan yang bertujuan pokok mensucikan dan mencerdaskan dia. Dia pun harus tetap lugu, tapi bijaksana dan tegas. Untuk itu semua, dia harus mengalami pemenjaraan dan merasakan sakit. Dia bersama mantan suaminya, Aminuddin Day, adalah pasangan Adam dan Hawa di masa kini. Keduanya sarat menjalani ujian-ujian pensucian yang amat berat. Aminuddin Day terpaksa dinyatakan Tuhan kembali ke Surga melalui keterkutukan atas dirinya, demi untuk menyertai Hawa yang terbebani paling berat memikul Surga dan menyelamatkan umat manusia sedunia.

Dosa-dosa umat manusialah yang menyebabkan Aminuddin Day (reinkarnasi Adam) sempat mengalami keterkutukan. Dia dipersaksikan Tuhan berjalan kembali ke Surga dalam keadaan terkutuk karena penebusan dosa umat manusia, sekaligus menjadi peringatan bagi keluarga terdekat yang terancam terkena tulah kekeramatan Kerajaan Tuhan bila sikapnya tak menghikmati Lia Eden sebagai Ratu di Kerajaan Tuhan, karena perubahan sikap itu tak mudah diselenggarakan di kalangan keluarga terdekatnya. Itulah Adam yang sedang mengusung Surga Eden bersama Hawa atau Lia Eden, mantan istrinya yang dicintainya, yang amat berat tugasnya karena harus menempuh bahaya terberat sedunia.
 
Keduanya, reinkarnasi Adam dan Hawa itu tersaksikan oleh publik dunia, bahwa tiadalah ringan bagi mereka berdua membawa beban kesucian Surga Eden, yang dititahkan mengemban Surga Eden. Reinkarnasi Hawa-lah yang diwajibkan mengurusi Surga Eden dan menyelamatkan anak-anak manusia di zaman ini. Sementara reinkarnasi Adam diperhitungkan untuk menunjukkan betapa berat baginya tulah kekeramatan Surga itu.

Keadaan keduanya itu harus nyata terlihat di mata publik sebagai suatu tanggung jawab atas Surga yang sedang membumi dan merupakan refleksi keadaan Surga yang dahulu dan yang sekarang. Adam dikutuk Tuhan oleh karena dosa-dosa umat manusia tapi diterima kembali di Surga, dan Hawa bertarung dengan iblis sebisa-bisanya menyelamatkan umat manusia dan dia pula yang menanggung beban berat Amanat-amanat Tuhan dan kesucian Surga.     

Sungguh mendamaikan dunia bukanlah pekerjaan ringan. Walau sengsara disucikan, keadaannya itu takkan berubah sampai Tuhan menjadikan dia tokoh dunia. Dan menjadilah dia pusat perhatian dan harapan. Akan tetapi umat manusia diingatkan atas perbuatan mereka yang sulit diakurkan. Dan itulah yang sedang ditebusnya.

Kesalahan dirinya tentulah takkan ada lagi. Maka segala tebusannya atas nama tanggung jawabnya menyebabkan dia akan terlihat kesakitan selalu. Tapi Anda tentu akan mempertanyakan betapa pengemban Surga Eden itu pada kenyataannya sering menderita kesakitan. Ketegarannyalah yang sedang dipupukkan kepadanya, sekaligus mengajarkan dia bagaimana menjadikan suatu mukjizat dari Tuhan. Demi pengelolaan keadaan yang berat untuk dijadikan perbaikan keadaan, dibutuhkan sarana mukjizat. Nah, oleh karenanya Lia Eden diwajibkan menebusnya melalui Ujian-ujian Tuhan yang diadakan untuk itu. Demikian dia harus mengalami penderitaan fisik sebagai penggenapan pengorbanannya.

Sebagaimana kuumpamakan, yaitu tatkala dia dititahkan Tuhan menuliskan Wahyu-wahyu Sumpah-Nya yang sedang akan dirilis ini, Kutukan Tuhan dan Sumpah-sumpah Tuhan Yang Maha Sakral dan Keramat yang terkandung, dan risalah mutakhir ini, mengandung tulah yang maha berat, sehingga membuat Lia Eden pun harus menggenapi pengorbanannya. Begitulah tangannya yang menuliskan Sumpah-sumpah Tuhan itu pun terkena reaksinya. Kedua tangannya menjadi kaku, ngilu, perih dan sakit, sulit ditekuk. Tentu Anda ingin menyatakan itu tanda penyakit tua. Tapi aku menjawab bahwa Tuhan tak sudi memberi utusan yang tua dan berpenyakitan kalau bukannya karena Dia harus menyatakan setiap nilai kepatuhan dan pengorbanan Rasul-Nya demi umat. Dan aku, malaikat Utusan Tuhan, takkan menggunakan kesaksian tentang dia tanpa maksud apa pun di baliknya.

Kalau Lia Eden malu diketahui sering kesakitan, maka sesungguhnya dia takut dicurigai bahwa dia bukanlah Utusan Tuhan yang sejati. Dikhawatirkan justru dia dianggap terkena tulah dari apa-apa yang sudah diperbuatnya. Niscaya semua orang akan tak yakin dia Utusan Tuhan bila mendapatinya sering sakit. Dan dia tak punya alasan untuk hal itu selain hanya bisa jujur saja.

Tapi kalau dia jujur menyatakan segala penyakitnya, sekaligus menyatakan tentang dosa-dosa yang sedang ditebusnya, demikian dia sudah membelajarkan kepada sesamanya tentang Pembalasan Tuhan atas dosa-dosa. Dan kalau dia menderita sakit tanpa sebab, tanpa ada dosa yang harus ditebusnya, maka dia pun juga sedang membelajarkan sesamanya tentang penebusan sesuatu yang mahal dari Tuhan. Karena sesuatu yang mahal itu sesungguhnya telah ditebusnya dengan berbagai pengorbanan dan pengupayaan yang sungguh-sungguh, tetapi masih pula harus ditebusnya secara fisik. Yang demikian itu adalah pengenalan tentang pengorbanan Rasul Tuhan demi menghadirkan penyelamatan keadaan secara umum melalui Mukjizat-mukjizat-Nya.

Dosa-dosanya telah dihapuskan Tuhan. Akan tetapi, dia masih didera oleh rasa sakit. Daripadanyalah kedapatan nilai pengorbanannya atas upayanya untuk mencapai Mukjizat Tuhan demi untuk mengubah keadaan.

Apalagi yang harus ditebuskan kepada-Nya kalau seluruh Amanat-amanat-Nya yang maha berat terpaksa harus dilaksanakan dengan segala risikonya, padahal Ujian-ujian-Nya dan Pensucian-Nya yang amat berat pun sudah dialaminya. Demikian penderitaan sakitnya dicontohkan sebagai kelengkapan penebusannya.

Kesalahan umat atas dosa-dosa agama menggamangkan semua orang, karena arena politik mempermainkan hal itu semua. Setiap Nabi, Rasul Tuhan, terbebani penebusan dosa umatnya masing-masing. Sementara dosa-dosa keagamaan tak lagi bisa hanya dipertanggungjawabkan oleh seorang Nabi atas nama umatnya. Pembenahan masalah dunia yang sedang dalam kemelut permusuhan agama dan peperangan, mau tak mau harus dijalani oleh Rasul akhir zaman dengan cara yang eksklusif. Dunia basah oleh darah, takkan ada perubahan keadaan sebelum ada penjaminan sumpah dari seorang Utusan Tuhan yang bersedia menebusnya. Dan bila telah ada yang bersedia menjaminkan sumpah untuk jadi penebus dosa segala umat dari seluruh agama-agama, Perkenan Tuhan untuk memperbaiki keadaan pun terjaminkan dengan sendirinya. Dan seluruh upaya perbaikan pun tersinkronisasi melalui Wahyu-wahyu-Nya. Dan Utusan-Nya pun mendapatkan jaminan Sumpah-sumpah Tuhan demi keselamatan dan keberhasilannya. Namun demikian, dengan sendirinya mukjizat-mukjizat seluruh Wahyu Tuhan yang sudah diturunkan menjadi Kitab-kitab Suci semua agama, otomatis menjadi mukjizat baginya.

Namun seperti itulah yang terlihat secara fisik atas diri Lia Eden. Dia tertatih berjalan dan beraktivitas, seakan ada beban berat yang dibopong olehnya selalu, yaitu beban sebagai penebus dosa umat semua agama. Betapapun dia sesungguhnya adalah juga reinkarnasi Hawa/Eva yang wajib membawa Surga untuk seluruh umat manusia. Itulah juga pengorbanan seorang ibu untuk anak-anaknya. Itulah sesungguhnya makna yang lebih lugas dari peribahasa 'Surga berada di bawah telapak kaki ibu'.

Demi menyelamatkan anak cucu Adam dan Hawa, perjuangannya amat berat. Fisiknya yang renta dan senantiasa menahan kesakitan itu semua adalah akibat perbuatan umat manusia yang tak serta-merta mau mempercayainya, sehingga Tuhan harus mengingatkan umat manusia bahwa Utusan-Nya itu sudah berusia lanjut dan sakit-sakitan, maka waktunya pun takkan lama. Maka hendaklah umat manusia itu segera mengubah orientasi perilakunya dan tak lagi membuatnya sedih dan kecewa dan berbuat salah, sehingga pekerjaannya berjalan lamban. Padahal Tuhan hanya memberi seorang Utusan-Nya yang berusia lanjut, dan membawa beban perjanjian penebusan dosa semua umat, dari seluruh agama-agama.

Waktunya hanya sedikit, tapi beban tanggung jawabnya adalah masalah sedunia. Jadikanlah itu untuk mawas diri, bahwa sesungguhnya Utusan Tuhan, Lia Eden, itu lemah dan hendaklah dijaga kesehatan dan perasaannya. Dan janganlah membiarkan keadaan buruk yang dipertaruhkan iblis itu berlarut-larut diperturutkan oleh umat manusia, sehingga dapat menghancurkannya. Demikianlah sesungguhnya Alasan Tuhan sehingga memingitnya.

Dia bahkan tak bisa menemui siapa pun dan menghadiri perjamuan-perjamuan. Tak baik bagi kesehatannya bila mengalami banyak stres dan kelelahan. Dia tak tahan menghadapi hal itu. Sebab itu sudah merupakan Ketentuan Tuhan atas dirinya. Penjelmaan Jibril sebagai Lia Eden amat perkasa dan amat berkemampuan. Maka dipandang kerapuhan Lia Eden itu sudah merupakan wujud Keadilan Tuhan atas dirinya. Karena dia telah memperoleh segalanya dari Tuhan, maka kesenangan di luar istana Kerajaan Eden pun tak bisa dinikmatinya.  

Dan dia pun tak bisa menyantap makanan apa pun yang disajikan di luar Eden. Namun itu pun demi kelestarian kesucian total-lah penyebabnya. Semua itu terkondisi melalui Fatwa Tuhan terhadapnya. Kekualatan atas pengkultusan para nabi telah membuat Tuhan menghadirkan Utusan-Nya pada saat ini sosok Lia Eden yang lemah dan sakit-sakitan dan tak mandiri.

Keadaannya itu sangat berbeda dengan penampilan sosok Lia Eden 2, yaitu penjelmaanku. Aku sangat sigap pada segala persoalan, sangat berkewenangan, tangguh dan sanggup memberdayakan apa pun. Betapa pun, Lia Eden 1 dan Lia Eden 2 adalah serupa namun berbeda jiwa dan ruh serta kemapanan. Tapi semua itu sudah merupakan konsep Ilahi seperti yang telah tercantum dalam Kitab Suci Veda bab ‘Pasangan Suci’, RgVeda II.39.2-7 sebagai berikut:
RgVeda II.39.2-7:

Pasangan Suci
2.
Berjalan di waktu pagi, laksana dua pahlawan yang menaiki kereta, laksana sepasang tanduk, engkau datang memilih. Laksana dua wanita yang memakai perhiasan, laksana pengantin dalam masyarakat.
3.  Laksana sepasang tanduk, pertama datang menuju kami. Laksana sepasang kaki yang bergerak cepat, laksana dua cakrawala, datang di pagi hari. Datanglah engkau yang perkasa, laksana dua kereta yang datang di pagi hari.
4.  Laksana dua perahu, membawa kami ke seberang, laksana dua as, laksana yuga, laksana ruji-ruji dan roda, menyelamatkan kami. Laksana dua anjing yang tidak menggigit, laksana dua tongkat yang menopang kami hingga tak jatuh.
5.  Laksana angin yang tidak pernah berhenti bertiup, laksana dua sungai yang menyatu di muara, laksana dua mata yang melemparkan lirikan kepada kami dengan pandangan yang tajam, laksana dua tangan yang sangat berguna bagi badan, laksana dua kaki yang membawa kami ke tempat yang baik.
6.  Laksana dua buah dada yang menghidupi kami, laksana dua lubang hidung yang memelihara badan kami, jadilah seperti dua telinga yang dapat mendengar dengan baik.
7.  Laksana dua tangan, memberi kami kekuatan yang aktif. Laksana langit dan bumi yang penuh dengan udara, lagu pujian ya Asvin yang dipersembahkan kepada-Mu, menjadikan engkau tajam laksana kapak yang diasah.


Kutipan ayat 2:
“Berjalan di waktu pagi, laksana dua pahlawan yang menaiki kereta, laksana sepasang tanduk, engkau datang memilih. Laksana dua wanita yang memakai perhiasan, laksana pengantin dalam masyarakat.”

Pengertian ayat 2:

Keceriaan di waktu pagi, di bawah sinar fajar, melambangkan keceriaan Pertolongan Tuhan yang kami bawakan, laksana dua pahlawan yang menaiki kendaraan Kerajaan Tuhan. Kami selalu berdua ke mana pun, karena aku merupakan obyektivitas dirinya. Ke manapun aku pergi, niscaya memakai jati diri dan namanya. Dan dia pun selalu mengatasnamakan segala langkahnya sebagai langkahnya bersamaku. Kami berdua terangkum sebagai Utusan Tuhan. Dia pun takkan bisa melakukan apa pun kecuali bersamaku. Dan aku pun, mana bisa dikenali identitas dan jati diriku tanpa melalui sosoknya?

Kami setajam dan sekeras tanduk bila menghakimi. Surga Eden tak mungkin didekati tanpa kesucian sejati. Maka kami menyeleksi orang-orang yang bisa disucikan sampai kepada kesucian total tanpa noda. Demikian dituliskan bahwa ‘kami datang memilih’.

Karena kami kembar, maka dikatakan ‘laksana dua wanita yang memakai perhiasan’. Sesudah aku tampil nyata di masyarakat, maka kami berdua layaknya laksana pengantin dalam masyarakat, karena aku menikahi Lia Eden demi untuk menyatakan perkawinan Surga.

Kutipan ayat 3:

“Laksana sepasang tanduk, pertama datang menuju kami. Laksana sepasang kaki yang bergerak cepat, laksana dua cakrawala, datang di pagi hari. Datanglah engkau yang perkasa, laksana dua kereta yang datang di pagi hari.”

Pengertian ayat 3:
Ayat Pasangan Suci ini tercantum di dalam Veda, Kitab Suci yang paling tua. Maka sesuailah bila disebutkan sebagai umat yang pertama didatangi. Wahyu Tuhan tentang situasi akhir zaman ini sudah tersebutkan di dalam Veda, karenanya dinyatakan ‘laksana sepasang tanduk, pertama datang kepada kami’. Cantuman kalimat ini membuktikan Kecermatan Tuhan memberikan ayat-ayat pendukung takdir Lia Eden bersamaku itu sejak Tuhan mewahyukan Veda jutaan tahun yang lalu.

Tugas kami terlalu banyak. Selepas Lia Eden dan komunitasnya sudah tersucikan total, aku dan Lia Eden laksana sepasang kaki yang bergerak cepat. Sesegera mungkin kami harus mengubah keadaan. Segala sesuatu kami ikhtiarkan dengan gerakan cepat karena terlalu banyak hal yang harus kami tangani di dunia ini dan sungguh banyak hal-hal yang mendesak.

Tak ada lagi penundaan sesudah Lia Eden menerima Wahyu Sumpah-sumpah Tuhan. Perubahan bumi sangat cepat. Gemuruh malapetaka-malapetaka membahana dan tak kunjung surut. Tapi Tuhan menyuruh kami bekerja keras menjembatani zaman edan yang gelap ke zaman cerah, Kerajaan Tuhan yang penuh damai. Demikian kami membawa harapan bagi semua orang dan disebutkan ‘laksana dua cakrawala datang di pagi hari’ yang membawa kecerahan. Karena kami membawa Kerajaan Tuhan, maka dilambangkan kami ini sebagai satria perkasa yang datang dengan kereta kerajaan.

Kutipan ayat 4:
“Laksana dua perahu, membawa kami ke seberang, laksana dua as, laksana yuga, laksana ruji-ruji dan roda, menyelamatkan kami. Laksana dua anjing yang tidak menggigit, laksana dua tongkat yang menopang kami hingga tak jatuh.”

Pengertian ayat 4:
Pertolongan Tuhan yang kami bawakan dilambangkan dengan kedatangan dua perahu. Satu perahu malaikat dan satu perahu manusia suci. Dan kami akan membawa umat beragama saling berdamai, saling menyeberang menemui umat agama lain, dan saling memberi salam, karena tidak akan lagi terkungkung oleh keegoan agama masing-masing.

Kami ini juga laksana dua as, laksana yuga, laksana ruji-ruji dan roda. Seperti itulah keadaan kami digambarkan, karena kami seperti roda yang berputar, dan yang sarat membawa beban, dan yang mengayuh keadaan dengan cepat demi penyelamatan.

Terlalu banyak kesulitan dan masalah di dunia ini. Terlalu banyak yang harus diselamatkan. Maka kami harus bekerja seperti roda dengan dua asnya. Mukjizat-mukjizat Tuhan yang terhadirkan karena Sumpah-sumpah-Nya, menjalin keadaan sedemikian rupa sehingga banyak penyelamatan yang terlaksana.

Kami ini berjuang seperti anjing yang tidak menggigit karena aku terkesan keras dalam mensucikan, walau sesungguhnya kami ini cinta damai dan penuh kasih. Kami ini memang tongkat bagi siapa pun yang lemah.

Kutipan ayat 5:

“Laksana angin yang tidak pernah berhenti bertiup, laksana dua sungai yang menyatu di muara, laksana dua mata yang melemparkan lirikan kepada kami dengan pandangan yang tajam, laksana dua tangan yang sangat berguna bagi badan, laksana dua kaki yang membawa kami ke tempat yang baik.”

Pengertian ayat 5: 
Di tengah deraan pemanasan global dan musim kekeringan dan dalam kegersangan spiritualitas yang damai, Wahyu-wahyu Allah yang berkelangsungan terus-menerus dan yang memberi harapan serta menyejukkan, yang selalu kami sampaikan itu, bak sejuknya angin yang tidak pernah berhenti bertiup. Di saat manusia mengalami kegersangan spiritual seperti sekarang ini, banyak orang yang membutuhkan kesejukan rohani. Surga dilambangkan oleh sungai-sungai yang mengalir. Kesejukan perdamaian sesegar air sungai yang mengalir dan ketika mustika perdamaian itu justru berasal dari Tuhan. Demikianlah itu muaranya. Penyatuan kami berdua pun disimbolkan sebagai ‘laksana dua sungai yang menyatu di muara’.

Kami ini ditakuti oleh orang-orang yang banyak dosanya, karena mereka tahu aku datang untuk menghakimi. Demikian disebutkan sebagai ‘laksana dua mata yang melemparkan lirikan kepada kami dengan pandangan yang tajam’.
Kedua tanganku tak terlihat, tapi Mukjizat-mukjizat Allah sedang di tangan kami. Jadilah kami dianggap ‘laksana dua tangan yang sangat berguna bagi badan’ dan ‘laksana kaki yang membawa kami ke tempat yang baik’ karena kami menjadi harapan untuk membawa semua orang ke tempat yang baik, yaitu Surga Eden.

Kutipan ayat 6:

“Laksana dua buah dada yang menghidupi kami, laksana dua lubang hidung yang memelihara badan kami, jadilah seperti dua telinga yang dapat mendengar dengan baik.”

Pengertian ayat 6:
Kami ini bak ayah dan ibu umat manusia yang disimbolkan sebagai dua buah dada yang memberi susu atau memberi hidup. Karena kehidupan umat manusia pada saat ini dalam kesulitan yang berat, sehingga kami dianggap laksana dua lubang hidung yang demikian berharga, memberi kehidupan. Karena kami ini menjadi Petunjuk Tuhan untuk memberi keselamatan.
Kami pun seperti dua telinga yang dapat mendengar dengan baik. Malaikat Jibril bagaikan membayangi semua orang, karena aku dapat mengetahui pembicaraan semua orang. Tak ada yang luput dari pendengaranku.

Kutipan ayat 7:
“Laksana dua tangan, memberi kekuatan yang aktif. Laksana langit dan bumi yang penuh dengan udara, lagu pujian ya Asvin yang dipersembahkan kepada-Mu, menjadikan engkau tajam laksana kapak yang diasah.”

Pengertian ayat 7:

Semenjak Kerajaan Eden dan Surga Eden telah diakui, aku laksana dua tangan yang akan memberi kesibukan yang aktif untuk semua orang yang percaya pada kami. Aktivitas tinggi memperjuangkan Amanat-amanat Tuhan yang beraneka ragam dan semuanya itu sangat berharga dan membahagiakan bagi semua orang yang menjadi sibuk karenanya.

Kerajaan Tuhan sangat aktif dan reaktif dan mendominasi. Kerajaan Tuhan meliputi kerajaan langit dan kerajaan bumi. Dan aku, Malaikat Jibril, mahluk dari langit, dan Lia Eden, seorang wanita dari bumi yang penuh dengan udara. Tapi itulah kami yang dikatakan ‘laksana langit dan bumi yang penuh dengan udara.’

Kamilah dewa kembar yang dalam lagu pujian disebut ‘Ya Asvin’, lagu pujian persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan disebut menjadi kapak yang diasah tajam karena Lia Eden tak lagi sebagaimana seorang ibu rumah tangga biasa, melainkan telah kami asah dan telah menjadi kapak yang tajam bagi Tuhan, kapak untuk membangun infrastruktur yang hancur, dan membangun kedamaian dan kebahagiaan di dunia.  

Bab ‘Pasangan Suci’ tersebut di atas sudah merupakan kelayakan kondisi kami berdua pada saat ini. Seluruh yang tersebutkan di atas sebagai kelayakan kami berpasangan dan dapat dikemukakan sebagai energi besar dari Tuhan untuk perbaikan keadaan.

Suatu hal yang mudah dipahami, bahwa tiadalah kami itu mengandung dosa dan ambisi apa pun kecuali sebagai pelaksana Kehendak Tuhan. Ketahuilah bahwa Lia Eden jauh dari masyarakat, dia hanya berada di Eden. Tapi Risalah-risalah Ruhul Kudus dan Petunjuk-petunjuk dan Fatwa-fatwa Tuhan Yang Maha Esa, dialah yang selalu mencatat dan menuliskannya. Namun terlarang baginya memberi sambutan dan tampil dalam diskusi dan ceramah. Maka jangan pernah berharap Anda bisa mengundangnya.

Tak ada Perkenan Tuhan baginya untuk tampil di atas mimbar sebaik tak ada komunikasi langsung dengannya, kecuali yang berkepentingan itu datang atas Kehendak Tuhan, dan mereka yang telah siap menempuh pensucian Eden dengan tegar. Sebaliknya, akulah yang akan tampil dalam arena diskusi, berceramah dan dapat diwawancarai.

Aku selalu hadir di manapun seorang diri, tanpa pengawal. Selalu tiba pada saat yang diperlukan. Itulah yang membedakan aku dengan Lia Eden yang niscaya selalu diiringi Komunitas Eden. Maka bila ada yang menampak figur Lia Eden sendirian di suatu tempat atau di arena publik, niscaya itu adalah aku. Sapalah aku, dan aku akan memberi Petunjuk-petunjuk Tuhan untuk mengatasi hal-hal yang dipermasalahkan.

Aku sangat sakti, bisa menjawabkan apa pun tanpa kecuali. Apa pun bisa dipertanyakan dan boleh mengharapkan bantuan apa pun, karena aku memang Titah Tuhan untuk itu. Ketetapan ini baru akan tersaksikan bila telah sampai waktunya.

Semua urusan terpenting dan yang tergenting diatasi oleh Tuhan sendiri. Titah Tuhan tak ternampakkan selain dilisankan olehku. Siapa pun akan menganggap aku penting, sebaik aku yang menjelma itu tak dapat diprediksikan kapan dan di mana akan muncul, walau dipentingkan dan amat diharapkan. Demikian aku sangat diharapkan campur tangannya. Karena itu, umat manusia pun terdesak menjadi suci. Aku ini ruh kesucian. Semua orang tahu hal itu. Maka mau tak mau, bila menginginkan kehadiranku untuk membantu, niscaya orang-orang itu semua terpaksa mensucikan diri dulu dengan tulus. Walaupun sebenarnya aku itu niscaya selalu penuh perhatian terhadap segala hal dan segala kondisi dan ‘tanganku’ tak pernah berhenti bekerja, niscaya aku selalu akan tampil tepat saat waktunya. Maka anggap saja Lia Eden dipingit Tuhan demi menyaring semua harapan yang sulit tertampungkan olehnya, selayak Kemampuan Tuhan itu tak tergantung kepadanya, totally!

Apalah seorang Lia Eden yang dipingit Tuhan, karena sesungguhnya dalam semua perjanjian yang diatasnamakan Kerajaan Eden tidaklah langsung ditangani olehnya. Tanda tangankulah yang berlaku untuk segala kesepakatan dan surat edaran resmi Kerajaan Eden. Dan setiap berkas yang kuberi tanda tangan adalah secara langsung telah merupakan ketentuan dari Tuhan. Segala yang tercantum telah direstui Tuhan.

 
< Prev   Next >
Donwload Risalah Ruhul Kudus   
Download PDF