| Maret 2009 |
| Desember 2008 |
| Oktober 2008 |
| Mei 2008 |
| Risalah Sumpah Tuhan |
| Risalah Fatwa Mahkamah Tuhan |
| Risalah Surat Ruhul Kudus |
| Download Risalah |
| Surat Pengantar |
| Penghapusan Semua Agama |
| Surga |
| Neraka |
| God's Revelation |
| Holy Spirit's Letter |
| Risalah Fatwa Mahkamah Tuhan | |
|
Perguliran Kodrat dari yang Termulia “Katakanlah, Aku ini memang selalu berimbang. Tapi Aku lebih lugas mengupayakan penyelamatan dan perbaikan serta pensucian. “Akankah Kerajaan dan Surga-Ku dapat Kutitipkan kepada orang yang Kuciptakan dari malaikat? Kalau itu yang Kulakukan, umat manusia takkan pernah tahu Kebijakan-kebijakan-Ku secara pasti, karena kriteria-kriterianya kurang jelas diperagakan oleh Utusan-Ku yang memang sudah suci. Setiap Ketentuan-Ku perlu kualifikasi. Tapi pembahasan yang dapat membakukannya jarang dapat terlaksana, sehingga bagaimana mungkin dapat memahami secara pasti perguliran kodrat di antara seluruh makhluk-Ku, karena mantan malaikat tak berdosa. Ruhnya bersih.“Dengan apa Kubuktikan atas dirinya sebagai Imbalan-Ku atas pengabulan doa-doanya? Karena dia tak perlu bersusah payah mengupayakan kemenangannya dari menaklukkan hawa nafsunya dan dosa-dosanya. Dia patuh dan amat mudah disucikan, selalu berhati-hati menjaga dirinya dari keterjerumusannya melakukan dosa-dosa. Dan dia tangguh melakukan hal itu. Maka niscaya Aku sering mengabulkan doanya. “Untuk itu saja, bagaimana Aku menguraikan penjelasan kepadanya agar dia dapat menangkap setiap kejelasan Undang-undang Hukum-Ku? Sebaliknya, dia tak cukup memiliki daya saing, sehingga dalam memberdayakan pikiran sucinya, dia selalu mengandalkan kepasrahannya terhadap-Ku. Demikian dalam segala pelaksanaan apa pun dalam kehidupannya, dia selalu mengandalkan kepasrahannya terhadap-Ku karena dia terbiasa mendapatkannya, dan karena menganggap bahwa setiap niat baik dan suci niscaya Kubantu. Padahal dunia itu penuh dengan orang-orang jahat. “Dan iblis sekarang ini suka memperdayakan orang-orang yang beriman, bahkan terhadap orang-orang yang terpilih Kunaungi Surga sekalipun. Adakah itu janggal bagimu? Aku justru hanya mengandalkan kesucian orang-orang yang beriman dan yang tangguh mempertahankan kesuciannya. Dan tiadalah Surga-Ku itu vakum dari godaan iblis. Hanya saja orang-orang yang sudah disucikan itu mudah mengenyahkan godaan-godaan dan tak sulit membiasakan diri selalu berada dalam kesucian. “Siapalah yang mengira kesucian itu baku bila sudah disucikan? Karena siapa-siapa yang berada di Surga-Ku tapi bila belum tangguh mempertahankan kesuciannya, bagaimana mereka dapat mempertahankan kesucian Surga Eden itu kekal selama-lamanya? “Ada kalanya manusia itu lalai oleh karena keliaran daya intelektualitasnya dan yang ragu-ragu, ada kalanya ada orang yang tak sanggup melawan kebiasaan duniawinya. Dan ada yang sulit untuk tulus bertakwa selamanya. Dan ada yang tak mungkin memfokuskan cintanya kepada-Ku karena menyekutukannya dengan cinta kepada lawan jenisnya. Dan pula masih banyak orang yang berminat ke Surga-Ku demi mengharap pahala, padahal mereka sudah di Surga. “Tiadalah kesangsian bagi Surga-Ku. Maka janganlah ada kesangsian apa pun darimu untuk-Ku. “Surga-Ku itu adalah muara segala kebajikan. Tak ada yang diharapkan lebih daripada Surga-Ku. Maka janganlah mengharapkan Kubalaskan pahala atas kebajikanmu setelah Surga-Ku terbuka. Kemurnian Surga-Ku, kemurnian ketulusan. “Diperlukan kekuatan iman ekstra untuk menggulung kejahatan. Dan diperlukan keberanian dan kecerdasan luar biasa untuk mengatasi tipu daya dan tindak kekerasan. Bila Utusan-Ku itu adalah orang budiman yang beranjak peralihan kodratnya dari malaikat, maka memperjuangkan amanat-amanat yang maha berat itu dengan kesucian ruhnya saja tak cukup untuk mensucikan umat manusia di dunia ini. Diperlukan orang yang kuat rohani dan ruhnya, dan sudah terbiasa mengalami hal-hal yang berbahaya serta sering melalui keadaan yang terburuk, karena dia harus menyampaikan kepada umat manusia agar tangguh disucikan dan diuji, dan terus berusaha bersungguh-sungguh melawan dosa dan hawa nafsunya. Padahal mantan malaikat di dalam habitatnya yang murni cenderung selalu baik hati dan tak suka melakukan kesalahan. Oleh karena itu, dia takkan sanggup menghadirkan pengajaran yang tangguh bagi umat manusia. Dan nilai kebesaran Mukjizat-mukjizat-Ku yang harus dapat dicapainya tak jelas bagaimana ujian-ujiannya, sehingga dia dapat memperolehnya. “Seperti memanjat tebing, bagaimana bisa sampai di puncak kalau Utusan-Ku itu hanya selalu mengandalkan doa dan kesucian dirinya? Setiap kadar keberhasilan pensucian setara dengan kadar Mukjizat-Ku sebagai imbalannya. Dari keberhasilan pensucian dosa-dosa para Utusan-Ku-lah baru dapat Kugantikan dengan keberhasilan meraih Mukjizat-mukjizat-Ku. “Sungguh berat pensucian Utusan-Ku, karena Mukjizat-mukjizat-Ku itu maha dahsyat. Manalah itu bisa diperoleh tanpa melalui ujian-ujian berat dan bagaimana mengadakan ujian berat bila bukan dari pensucian dosa? “Mantan malaikat itu suci. Setelah habitatnya berubah manusiawi, fisiknya menjadi pembatas baginya. Dia takkan bertahan dapat mengatasi belantara masalah-masalah berat umat manusia. Perlindungan-Ku kepadanya yang diperoleh karena kesuciannya itu tiadalah terjadi melalui pertarungan batin dan akalnya. Keimanannya kepada-Ku masih bersih dan jernih. Tapi tanpa ketangguhan yang dihasilkan dari perjuangan batin yang sulit dan berat, manalah dia bisa bertahan menghadapi tipu muslihat manusia dan iblis. Sementara habitatnya bukan lagi habitat malaikat yang memiliki keistimewaan kegaiban dan masih berada di dalam hunian sistem kehidupan dan hukum kemalaikatan yang segalanya dalam kandungan kemurnian kebaikan. Azas kemurnian dan azas kebaikan sajalah yang terkandung sebagai habitat malaikat yang selalu bekerja melalui kegaibannya. “Adalah lazim malaikat yang turun kodrat menjadi manusia. Niscaya perubahan kodrat malaikat itu terkait penuh dengan kegagalannya menghadirkan kesadaran manusia yang dijaganya, sehingga orang itu melakukan dosa-dosa fatal yang tak terampuni. Demikian malaikatnya pun menanggung akibatnya. Jadilah dia manusia kebanyakan yang berbudi dan lugu, tapi kurang berani atau terlalu berhati-hati. Kewaspadaannya terhadap kejahatan adalah naluri malaikat. “Tiadalah mantan malaikat itu lemah dan penurut. Melainkan ketika dia telah menjadi manusia, habitatnya telah berubah. Jasmaninya memberi pembatas, dan dia terkurung ketat oleh segala tantangan yang buruk dari manusia dan iblis di sekelilingnya. Pengalaman atas kejahatan manusia terhadap sesamanya tak mungkin pernah dialaminya, sehingga hal itu asing baginya. “Banyak hal yang membuatnya berkutat di alam pikirannya sendiri yang belum terbiasa dengan kemanusiawiannya sehingga perspektif logikanya pun pendek, sehingga jangkauan dilematis yang sedang dihadapinya tak sanggup diatasinya. Lagi pula, ketika kekuatan gaib tak dibekali, sulit baginya mencapai cita-citanya tanpa melalui pengupayaan secara alamiah dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan tantangan. Tak ada lagi mukjizat yang dapat diberdayakan untuk menjamin kesakralan dan kekeramatan. Padahal bagi Utusan-Ku, hal itu amat diperlukan. Maka adalah setara pensucian yang berat atas Utusan-Ku sehingga dapat mencapai Mukjizat-mukjizat-Ku untuknya. Dan adalah setara segala tanggung jawabnya yang berat itu dengan Janji-janji-Ku yang Kupenuhi. “Mempersiapkan manusia yang sudah matang menilai, dan matang memperjuangkan suara hati nuraninya dari kejahatan-kejahatan manusia dan iblis, adalah lebih baik dan dapat menghasilkan ketangguhan yang kukuh. Karena ruh yang terlatih itu seiring dengan perjalanan balik regulasi ruh sebagai ketentuan Sistem-Ku yang baku. “Bagi-Ku, mengumpamakan mantan malaikat sebagai Utusan-Ku di akhir zaman sama saja membiarkan Penyelamatan-penyelamatan-Ku terhadap umat manusia bisa terancam gagal, karena pensucian atas dirinya hanya ringan dan kurang mutunya. Tak ada contoh kesalahan yang dihukumkan yang berasal dari dirinya sendiri. Upaya penyelamatan akhlak dan keimanan tidak beraneka, maka tidak interesan dan selalu lemah konklusinya. Gairah kemenangan batin tak terlukis dan hanya dirasakan samar-samar. Maka, itu tak mungkin dapat memicu interes bersuci. Dan bagaimana dapat menjadikannya sebagai suri penauladanan yang tangguh? “Dia pun tak bisa menjelaskan timbal balik suatu dosa karena kurang pengalaman. Dan bagaimana dia bisa tahu rasa siksa atas perbuatan dosa, padahal dia harus memberi penjelasan tentang hal itu, sedangkan dia tak mengalaminya? Takaran Penghisaban-Ku atas dosa itu harus dialaminya, sehingga Utusan-Ku itu dapat menceritakan kepada sesamanya manusia tentang kaitan dosa dan siksanya. Maka Aku memilih manusia yang sedang beralih pulang ke kodrat termulia sebagaimana Lia Eden. “Kupilih Utusan-Ku dari kalangan manusia itu seorang perempuan karena lawannya, dajjal, itu pun dari jenis perempuan. Dan Ruhul Kudus-lah yang mengayomi ruh-ruh suci yang Kuandalkan menyelesaikan segala hal. Padahal dia takkan berhasil kalau Kutampilkan menyertai laki-laki Utusan-Ku. “Sungguh digdaya iblis itu merayu sehingga dapat mengurung umat manusia di dalam dosa-dosa maksiat. Iblis betina takkan bisa berbuat banyak bila Utusan-Ku itu pun adalah wanita. Dan Jibril pun perkasa menghadapi perlawanan Nyi loro kidul, karena takkan pernah Lia Eden terjerembab oleh rayuannya. “Kalaulah Utusan-Ku di akhir zaman itu memang sudah suci dan seorang laki-laki, termungkinkan tidaklah akan sukses dan Aku dapat dianggap tak adil bersikap di antara laki-laki dan perempuan. Posisi laki-laki di Sisi-Ku ternampakkan selalu istimewa dibandingkan penilaian atas harkat perempuan. Maka akan selamanya umat manusia itu beranggapan bahwa hanya laki-lakilah Nabi Utusan-Ku. Maka Kuhadirkan di akhir zaman, justru Utusan-Ku itu adalah perempuan. “Dia Kusucikan dari dosa-dosanya. Kusiksakan segala dosa-dosanya yang cukup memadai banyaknya. Itu sengaja Kubiarkan agar pensuciannya cukup berat sehingga dia sangat paham Pembalasan-Ku atas setiap dosa besar dan dosa kecil. “Kusiksa dia sampai cukup penebusannya untuk meraih Mukjizat-mukjizat Besar dari-Ku. Tapi, daripadanya pulalah Aku mencurahkan ilmu pengetahuan tentang Hukum-hukum-Ku dan ilmu tentang dunia ruh. “Semua orang yang berada dalam peruntungan berpulang ke takdir kodrat termulia adalah terjamin lebih bisa bersuci sampai kepada taraf kesucian tanpa noda. Demikian itu adalah kebiasaan secara umum regulasi ruh. “Setara dengan itu, ingin Kujelaskan bahwa secara umum para malaikat yang berubah kodrat menjadi manusia adalah orang-orang yang terjamin kualitas kesuciannya. Ada banyak jenis Utusan-Ku, ada nabi pembawa ajaran agama, ada dewa kesenian, ada pula rasul ilmu pengetahuan, dan rasul ilmu kesehatan dan pengobatan, dan lain-lainnya. Biasanya mereka itu Kurahmati kecerdasan tinggi, sehingga mereka menjadi manusia-manusia sukses dan mulia, atau para penemu ilmu adi luhung yang ilmunya kekal dan besar manfaatnya bagi perubahan zaman dan peradaban. Demikianlah Cara-Ku mengelola semesta. Selalu Kujadikan malaikat itu pembawa turun ilmu pengetahuan yang diperlukan umat manusia. Maka keberadaan mereka di kalangan manusia itu membawa keberuntungan besar bagi umat manusia. |
|
| < Prev | Next > |
|---|